YOUR SECRET ADMIRER (PART 1)
pagi yang sendu namun berhawa panas ini membangunkanku dari mimpiku semalam. Tapi aku bahkan lupa apa mimpiku semalam, ya aku memang selalu begitu, lupa pada mimpiku. Mungkin ini karena beberapa hari ini aku punya banyak pikiran jadi aku sering mimpi aneh-aneh dan langsung lupa saat terbangun.
Sudah beberapa hari ini pulanaku selalu memikirkan dia, entah ini aku hanya pengagum saja atau memang dari perasaanku yang terdalam. Aku sadar tak seharusnya punya perasaan seperti ini, aku harap sih hanya kagum sebagai seorang teman kepada temannya saja, gak lebih.
Perasaan kagum ini mulai muncul saat aku minta tolong ke dia, namanya Gema, buat bikinin desain foto kejutan buat temenku, si Fatma. Entah kenapa saat Gema berbicara denganku, matanya selalu melihatku lekat-lekat seakan bahwa ada sebongkah perasaan yang ingin kubongkar dan kupeluk. Atau memang binar matanya saja yang selalu hangat kepada setiap orang. Semoga saja begitu.
Aku memang ga berharap lebih dengannya, karena aku sendiri sudah sangat tidak mungkin untuk bersamanya karena statusku yang memaksaku untuk selalu menolak setiap laki-laki atau bahkan rasa kagumku sendiri pada setiap laki-laki. Aku tidak mau mengkhianati kepercayaan orang yang (katanya) aku harapkan jadi suamiku kelak. Orang itu namanya Angga. Dia memang baik padaku, kami sudah menjalin kasih kurang lebih selama 3 tahun. Dan sudah 2 tahun terakhir ini kami jalani hubungan kami dengan hanya komunikasi saja. Karena Angga juga harus berkuliah di kota yang berbeda, kata orang si hubungan jarak jauh seperti ini namanya LDR (Long Distance Realationship). Jadilah kami hanya bertemu setahun sekali saat lebaran atau saat sama-sama sedang liburan. Dia sangat percaya padaku, dan sangat menyayangiku apa adanya. Bahkan sampai sekarang kalau dihitung-hitung mungkin rasa cintaku padanya tak sebesar rasa cintanya padaku. Itulah yang selalu aku usahakan, bisa mencintainya dengan sepenuh hatiku. Kadangaku takut di kemudian hari hubungan kami yang terlihat kuat dari luar tapi rapuh di dalam, khusunya di dalam hatiku.
Tapi aku selalu bisa menutupi hal ini dari Angga. Karena aku enggak mau mengecewakan Angga. Aku mungkin terlalu kasihan, yang kemudian semakin hari rasa kasihan itu berubah jadi rasa sayang.
Aku seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru, loncat kegirangan kesana sini saat aku melihat binar mata Gema. Penuh kehangatan. Aku juga tidak tau, apakah Gema itu udah punya pasangan atau belum. Kami baru saja berkenalan sekitar 2 bulan, itupun karena kami tak sengaja satu kelompok desain grafis. Dari situlah aku tahu kalau Gema punya ketertarikan sendiri pada dunia desain.
Aku gak berharap lebih buat perasaanku ini, sekarang aku hanya ingin menikmati sendiri perasaanku dengannya. Walaupun dia tak merasakannya dan bahkan tidak tahu menahu tentang rasaku saat ini.
Aku bahkan berharap dia tidak akan pernah tahu perasaanku selamanya, karena kalaupun dia tahu dan ternyata dia pun punya perasaan yang sama sepertiku. Kami tetap tak bisa bersama, karena ada telah ada hati seseorang yang telah menempati duluan di hatiku. Jadi nantinya kami pasti hanya akan saling tersakiti oleh perasaan kami masing-masing. Jadi lebih baik seperti ini aku jadi penggemar rahasia yang bersembunyi dari menara tertinggi hatiku dan dia bahkan tidak tau kalau ada yang melihat dan mengwasi setiap perasaannya menjelajah.
Di suatu siang, selepas kuliah terakhir saat aku mau ke masjid untuk sholat ashar, tak sengaja aku bertemu dengan Gema. Dia terburu-buru sekali seperti sudah terlambat masuk kelas.
"Gema..."
"oh heii..."
"mau kemana? kuliah?"
"iya nih... uda telat...duluan ya"
"eh iyaa.."
memang hanya obrolan basa basi, tapi menurutku itu sudah lebih dari cukup karena tak biasanya kami bertemu. Biasanya pertemuan kami hanya jika kami satu kelas. Sedangkan mulai semester ini sepertinya kami sudah jarang satu kelas lagi.
Saat aku balik dari masjid, aku berharap bisa ketemu dengan Gema lagi. Tapi ternyata memang nasibku untuk bertemu dengan dia. Saat kulihat kelasnya, sudah kosong tinggal tersisia beberapa orang yang terlihatnya sedang mengerjakan tugas. "Oh ya sudahlah.." batinku. Aku langsung bergegas untuk pulang.
Saat aku menuju motorku yang telah terparkir agak jauh di pojokon, aku tak sengaja melihat motor Gema. Motornya hanya berjarak 5 motor dari motorku. Aku ingin melihat sebentar dan membayangkan Gema mengendarai motornya. "Pasti gagah.." pikirku sambil senyum-senyum sendiri membayangkan dia yang kerempeng rambutnya yang keriwil pake helm tipe full face' dan motor ninja yang mungkin beratnya bisa lebih gede dari badannya sendiri.
Tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu yang aneh dari motor ninja hijau yang bertuliskan "Gema Ramadhan" di tangki bensinnya. Ternyata ada amplop coklat yang terjatuh dari motor ninja hijaunya. Entah apa yang membuatku ingin tahu apa isi amplop coklat itu. Aku tengok kanan dan kiri, melihat situasi, aman, parkiran lagi sepi dan hanya aku di sekeliling motor-motor di parkiran. Aku mulai membuka amplop itu perlahan, takut isinya rusak. Ternyata isinya setumpukan fotonya Gema yang lagi di pante bareng temen-temennya, dan beberapa hasil jepretannya yang berlatar belakang gunung dan pantai. Ya setahuku dia memang menyukai dunia fotografi juga. Tapi ada yang aneh, ada setumupuk foto yang dipisahkan dan dimasukkan dalam kantong plastik dalam amplop yang tadi. Lagi-lagi aku penasaran, kubukalah plastik berwarna hitam berukuran minimalis seukuran A5 itu. Saat kubuka tak kusangka itu adalah fotoku. Yang entah kapan dia menjepretku karena aku enggak ngerasa difoto dengan gaya seperti itu. Itu semua gaya foto natural dan bukan aku yang meminta. Ada sekitar 20an mungkin fotoku dengan gaya yang berbeda.
Aku langsung memasukkan kembali semua foto itu dan menyelipkannya di gantungan motor Gema.
Aku pulang dengan membawa pikiranku sendiri, ternyawa dia juga mengagumiku diam-diam. Tadi juga ada fotoku saat ospek 2 tahun yang lalu. Dan dia dapat foto itu dari mana? Pikiranitu terus menghantui hingga esok harinya di kampus.
Sudah beberapa hari ini pulanaku selalu memikirkan dia, entah ini aku hanya pengagum saja atau memang dari perasaanku yang terdalam. Aku sadar tak seharusnya punya perasaan seperti ini, aku harap sih hanya kagum sebagai seorang teman kepada temannya saja, gak lebih.
Perasaan kagum ini mulai muncul saat aku minta tolong ke dia, namanya Gema, buat bikinin desain foto kejutan buat temenku, si Fatma. Entah kenapa saat Gema berbicara denganku, matanya selalu melihatku lekat-lekat seakan bahwa ada sebongkah perasaan yang ingin kubongkar dan kupeluk. Atau memang binar matanya saja yang selalu hangat kepada setiap orang. Semoga saja begitu.
Aku memang ga berharap lebih dengannya, karena aku sendiri sudah sangat tidak mungkin untuk bersamanya karena statusku yang memaksaku untuk selalu menolak setiap laki-laki atau bahkan rasa kagumku sendiri pada setiap laki-laki. Aku tidak mau mengkhianati kepercayaan orang yang (katanya) aku harapkan jadi suamiku kelak. Orang itu namanya Angga. Dia memang baik padaku, kami sudah menjalin kasih kurang lebih selama 3 tahun. Dan sudah 2 tahun terakhir ini kami jalani hubungan kami dengan hanya komunikasi saja. Karena Angga juga harus berkuliah di kota yang berbeda, kata orang si hubungan jarak jauh seperti ini namanya LDR (Long Distance Realationship). Jadilah kami hanya bertemu setahun sekali saat lebaran atau saat sama-sama sedang liburan. Dia sangat percaya padaku, dan sangat menyayangiku apa adanya. Bahkan sampai sekarang kalau dihitung-hitung mungkin rasa cintaku padanya tak sebesar rasa cintanya padaku. Itulah yang selalu aku usahakan, bisa mencintainya dengan sepenuh hatiku. Kadangaku takut di kemudian hari hubungan kami yang terlihat kuat dari luar tapi rapuh di dalam, khusunya di dalam hatiku.
Tapi aku selalu bisa menutupi hal ini dari Angga. Karena aku enggak mau mengecewakan Angga. Aku mungkin terlalu kasihan, yang kemudian semakin hari rasa kasihan itu berubah jadi rasa sayang.
Aku seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru, loncat kegirangan kesana sini saat aku melihat binar mata Gema. Penuh kehangatan. Aku juga tidak tau, apakah Gema itu udah punya pasangan atau belum. Kami baru saja berkenalan sekitar 2 bulan, itupun karena kami tak sengaja satu kelompok desain grafis. Dari situlah aku tahu kalau Gema punya ketertarikan sendiri pada dunia desain.
Aku gak berharap lebih buat perasaanku ini, sekarang aku hanya ingin menikmati sendiri perasaanku dengannya. Walaupun dia tak merasakannya dan bahkan tidak tahu menahu tentang rasaku saat ini.
Aku bahkan berharap dia tidak akan pernah tahu perasaanku selamanya, karena kalaupun dia tahu dan ternyata dia pun punya perasaan yang sama sepertiku. Kami tetap tak bisa bersama, karena ada telah ada hati seseorang yang telah menempati duluan di hatiku. Jadi nantinya kami pasti hanya akan saling tersakiti oleh perasaan kami masing-masing. Jadi lebih baik seperti ini aku jadi penggemar rahasia yang bersembunyi dari menara tertinggi hatiku dan dia bahkan tidak tau kalau ada yang melihat dan mengwasi setiap perasaannya menjelajah.
Di suatu siang, selepas kuliah terakhir saat aku mau ke masjid untuk sholat ashar, tak sengaja aku bertemu dengan Gema. Dia terburu-buru sekali seperti sudah terlambat masuk kelas.
"Gema..."
"oh heii..."
"mau kemana? kuliah?"
"iya nih... uda telat...duluan ya"
"eh iyaa.."
memang hanya obrolan basa basi, tapi menurutku itu sudah lebih dari cukup karena tak biasanya kami bertemu. Biasanya pertemuan kami hanya jika kami satu kelas. Sedangkan mulai semester ini sepertinya kami sudah jarang satu kelas lagi.
Saat aku balik dari masjid, aku berharap bisa ketemu dengan Gema lagi. Tapi ternyata memang nasibku untuk bertemu dengan dia. Saat kulihat kelasnya, sudah kosong tinggal tersisia beberapa orang yang terlihatnya sedang mengerjakan tugas. "Oh ya sudahlah.." batinku. Aku langsung bergegas untuk pulang.
Saat aku menuju motorku yang telah terparkir agak jauh di pojokon, aku tak sengaja melihat motor Gema. Motornya hanya berjarak 5 motor dari motorku. Aku ingin melihat sebentar dan membayangkan Gema mengendarai motornya. "Pasti gagah.." pikirku sambil senyum-senyum sendiri membayangkan dia yang kerempeng rambutnya yang keriwil pake helm tipe full face' dan motor ninja yang mungkin beratnya bisa lebih gede dari badannya sendiri.
Tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu yang aneh dari motor ninja hijau yang bertuliskan "Gema Ramadhan" di tangki bensinnya. Ternyata ada amplop coklat yang terjatuh dari motor ninja hijaunya. Entah apa yang membuatku ingin tahu apa isi amplop coklat itu. Aku tengok kanan dan kiri, melihat situasi, aman, parkiran lagi sepi dan hanya aku di sekeliling motor-motor di parkiran. Aku mulai membuka amplop itu perlahan, takut isinya rusak. Ternyata isinya setumpukan fotonya Gema yang lagi di pante bareng temen-temennya, dan beberapa hasil jepretannya yang berlatar belakang gunung dan pantai. Ya setahuku dia memang menyukai dunia fotografi juga. Tapi ada yang aneh, ada setumupuk foto yang dipisahkan dan dimasukkan dalam kantong plastik dalam amplop yang tadi. Lagi-lagi aku penasaran, kubukalah plastik berwarna hitam berukuran minimalis seukuran A5 itu. Saat kubuka tak kusangka itu adalah fotoku. Yang entah kapan dia menjepretku karena aku enggak ngerasa difoto dengan gaya seperti itu. Itu semua gaya foto natural dan bukan aku yang meminta. Ada sekitar 20an mungkin fotoku dengan gaya yang berbeda.
Aku langsung memasukkan kembali semua foto itu dan menyelipkannya di gantungan motor Gema.
Aku pulang dengan membawa pikiranku sendiri, ternyawa dia juga mengagumiku diam-diam. Tadi juga ada fotoku saat ospek 2 tahun yang lalu. Dan dia dapat foto itu dari mana? Pikiranitu terus menghantui hingga esok harinya di kampus.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah membaca blog ini. Berikan komentar/saran/kritik terbaikmu untuk blog ini agar blog ini semakin baik lagi. Terima kasih. Ku doakan masuk surga bagia kalian yang mau nulis di kolom ini. Amiin.