ISI HATI SANG PENYIMAK

kisah ini dimulai saat aku mulai mempertanyakan hubunganku dengannya. Yang katanya bakal jadi calon pendamping hidupku nantinya, hemm tapi entahlah. Semua keyakinanku entah kenapa sedang goyang. Mungkin karena lingkungan yang mempengaruhi alias teman-temanku kalii yaaa....
saat aku bingung seperti ini entah kenapa aku selalu kangen sama ibuku yang udah pergi duluan menghadap Allah, aku pengen menceritakan segala keluh kesahku, kebimbangan, kebingungan, dan kegalaluanku kepada ibuku. Aku ingin tahu apa pendapat ibuku setelah mendengar ceritaku. Apakah ibuku akan memberikan saran seperti yang teman-temanku sarankan, yaitu memutuskan hubunganku dengannya.
Ada satu kejanggalan di hatiku saat aku memikirkan aku akan berpisah darinya. Mungkin aku akan sangat kesepian saat tak ada lagi perhatiannya, kata-kata mesra darinya, penyemangat ataupun kejutan-kejutan yang alay darinya. Yaa walaupun alay, aku tetap menyukainya. Awalnya mungkin aku agak tak menyukai cara-cara alay-nya mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku, tapi entah kenapa lama kelamaan aku agak terbiasa dan mulai menyukainya. Jika aku membayangkan, hidupku mungkin akan hampa tanpa ke'alay'an-nya padaku. Aku mulai menyukainya, sungguh !
Meskipun aku belum yakin apakah dia memang benar-benar lelaki yang akan mengucapkan akad yang suci itu di masa depan. Tapi ada suatu kenyamanan yang aku rasakan saat bersamanya, dan merasa kehilangan saat tak ada lagi sosok dia di sampingku sebagai penyemangat ataupun hanya sekedar penghibur semata.
Itulah satu rasa yang mungkin hanya aku yang rasakan dan sulit untuk kuungkapkan. Sebuah rasa yang hanya aku yang merasakannya
Ma'af teman, mungkin segala saranmu ada benarnya tapi aku yang merasakan segala rasa yang ia berikan. Selagi aku nyaman, mungkin akan ku jalani, hubungan yang  di mata kalian  "biasa-biasa saja" ini.
Hubunganku yang "biasa-biasa saja" ini mungkin terlihatnya tanpa sebuah perencanaan yang kuat, ataupun sebuah keyakinan tentang suatu masa depan.
Dia memang bukan pengatur kata-kata yang romantis, yang bisa membuat janji-janji gombal
Dia memang bukan lelaki yang kuat dan tangguh, jika tanpa aku disampingnya
Dia memang bukan lelaki yang pantas aku kasihi atau aku beri rasa iba,, karena kuakui dia memang lemah
Tapi minimal dia memiliki segudang tekad dan semangat untuk hidup kami berdua nanti di masa depan.

Aku bukan orang yang suka menceritakan segala hal pada teman-temanku.
Aku hanya seorang pendengar setia. Yang suka mendengar kisah-kisah orang di sekitarku, tapi sayang aku lebih sering lupa bagaimana mendengar suara hatiku sendiri.
Aku kadang lupa bahwa aku juga perlu tempat untuk menuangkan segala isi di hati ini, yang mungkin sudah terlalu penuh dan sesak.
Apakah aku terlalu egois terhadap diriku ?
Atau aku yang terlalu egois menyimpan semua cerita hidupku sendiri, tanpa merasa perlu berbagi dengan sekelilingku?
Tapi jika aku menceritakan semua kisahku, hidupku, ataupun hal-hal kecil yang menurutku penting dan menarik. Menurut teman-temanku, itu bukanlah hal yang penting dan mungkin bagi mereka itu hal yang tidak perlu untuk dicerikan. Bahkan yang lebih menyakitkan, mereka malah tidak mengerti dengan apa yang kuceritakan. Dan lebih memilih mengiyakan segala ceritaku tadi. Hemm terkadang itu menyakitkan, dan setelah itu aku lebih memilih untuk TIDAK menceritakan semua hal dalam hidupku. Dan aku lebih memilih diam dan mendengarkan, mungkin itu lebih baik untukku.

AKU HANYA PENYIMAK CERITA, YANG MEMENDAM SEGUDANG CERITA

Aku baru menyadari jika aku hanya penyimak cerita, dan tidak punya peran dalam semua cerita. Istilah lainnya aku hanya penonton. Entah kapan aku akan menjadi aktris dalam sebuah cerita. Sifat penyimak dan 'pendengar setia' ini mungkin aku dapatkan saat aku masih duduk di bangku SD. Saat kisah tragis hidupku dimulai, yaitu ketika ibuku meninggal. Mulai saat itu aku mulai kesepian, dan mulai berdiam. Anehnya sekelilingku menganggapnya itu wajar. Saat seorang anak ditinggal mati ibunya dan anak itu hanya diam, itu dianggap wajar dan biasa aja. Saat aku mulai berpikir keras, dan mulai menyemangati diriku sendiri tanpa ada orang lain yang ikut menyemangati hanya ALLAH SWT yang menemaniku.
Aku gak bermaksud buat menyalahkan ataupun menyesali takdir. Aku bersyukur dengan semua kehendak dan ketetapannya kepadaku. Aku merasa itu semua cukup dan pantas untukku.
Tapi tahukah, aku kadang bosan dengan hanya ada aku dan diriku saja yang menyemangati. Aku butuh seseorang yang menghiburku dan menyemangatiku setiap saat. Mungkin itulah titik dimana aku memang butuh sosok seperti dia, walaupun tidak sepenuhnya dia mengerti apa mauku.

Aku akan berusaha mempertahankan hubungan ini, dengan segala kecacatannya mungkin aku bisa memperbaikinya.
Mungkin suatu saat dia akan berubah, dan merubah sikapnya.
Dan entah sampai kapan aku bertahan untuk mengatakan ini.
Doakan aku. aku akan mengatakan ini sampai di depan meja penghulu. Dan berkata "Ya aku siap menikah dengan MGRA"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INGATKAN AKU !!!

YOUR SECRET ADMIRER (PART 1)