ANTARA IMPIAN, CITA - CITA, DAN SEBUAH AMANAH
baru tadi siang aku udah berdamai sama masa laluku. Sekarang malah masa depanku yang belum (juga) mau berdamai denganku. Mau mu apa sihh? Aku udah ngasih segenap jiwa dan ragaku untukmu tapi kenapa kamu susah banget nempel atau sekedar nangkring di otakku. Aku udah nempelin segala macem tulisan dari yang penyemangat, cita-cita, sampe yang melarang ini itu segala. Tapi semuanya sepertinya kurang mempan dengan hati, tekad, dan jiwaku. Semuanya masih tidak mau berdamai dengan masa depanku. Aku sebenarnya kasihan dengan otakku yang sudah berusaha keras mengerahkan semua kemampuan untuk bisa men"cantol"kan ilmu itu, dan menempelkan ilmu itu di otakku dengan lem paling lengket sedunia. Dan itu pun masih belum bisa, ilmu itu kembali terlepas dan terjatuh. Aku ingin memungutnya dan menempelkannya kembali, walau aku tahu akhirnya juga akan terlepas kembali. Tapi aku mau melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Hingga ilmu itu bosan terjatuh terus, dan ilmu itu memilih untuk tetap menempel terus di otakku.Mungkin saat ini aku belum sampai ke tahap dimana ilmu itu mau menempel terus. Yaa aku tahu semua itu butuh proses, proses agar ilmu itu siap untuk menempel terus di otakku dan tak terjatuh lagi. Tapi semua proses butuh waktu. Dan semua yang berhubungan dengan waktu aku kira semuanya butuh kesabaran. Entah dari aku sendiri atau ilmu itu. Aku harus bersabar untuk membujuk ilmu itu mau melekat erat dalam otakku, dan itu bukan hal yang mudah tapi juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.
Lihat saja saat seekor ulat menjalani kehidupannya dengan lambat, memakan daun disekelilingnya tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dibalik sikapnya yang gemulai menari di atas daun, ternyata aku sadar ada sebuah sikap kepasrahan disana. Ulat itu pasrah, apakah nantinya ia akan dimakan ayam atau burung? Atau malah mendapat sebuah keajaiban? Metamorfosis. Menurutku metamorfosis yang paling indah adalah metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Dalam sebuah proses yang panjang itu, si ulat terus bersabar dan berpasrah atas takdirnya tapi ulat itu juga terus berusaha untuk mempertahankan hidupnya yaitu dengan cara memakan daun-daunan yang ada di sekitarnya. Coba saja jika si ulat hanya berpasrah dan bersabar tanpa berusaha terlebih dahulu mempertahankan hidupnya, mungkin di dunia ini tak akan ada kupu-kupu cantik lagi. Ulat tak pernah mengeluh, kenapa dia dilahirkan begitu jelek dan begerak lambat? Yaa tentu saja karena ulat tak punya pita suara seperti kita jadi kita tak akan pernah mendengar ulat mengeluh. Hehe :D
Tapi menurutku jika si ulat memiliki pita suara sekalipun, si ulat pun tak akan pernah mengeluh. Karena setiap ulat pasti tahu karena dibalik kejelekan dan kesengsaraan dalam menjalani hidupnya, suatu saat nanti ia akan berubah menjadi seekor makhluk yang menawan bernama kupu-kupu. Yang tentu saja sangat berbeda dengan kehidupannya saat menjadi ulat. Kini ulat itu pun dapat terbang bebas sesuka hatinya. Tak lagi iri pada burung. Kini ia bisa menghisap manisnya sari bunga, tak lagi iri pada lebah. Dan kini ia pun memiliki kedua sayap yang indah, yang mungkin didambakan oleh seluruh makhluk yang ada. Kini tak ada lagi yang berani menghinanya seperti dulu, tapi yang ada semua terkagum-kagum padanya. Kupu-kupu pun tak lekas bersombong diri karena siklus hidup kupu-kupu tak lama kawan. Hanya beberapa minggu setelah ia bermetamorfosis. Kemudian ia akan kembali berpulang ke Rumah dari segala rumah. Tak ada lagi kedua sayap yang indah, sayap yang menyejukkan hati yang melihatnya, sayap yang merupakan simbol kerja kerasnya dulu. Semuanya telah sirna. Tapi sirnanya dua buah sayap yang menawan, maka muncullah 4, 6, 8, sayap yang lebih menawan yang siap mewarnai cakrawala. Begitulah kehidupan, yang mati selalu digantikan oleh yang hidup.
Aku juga ingin menerapkan sikap si ulat yang begitu berjuang keras, tak kenal lelah, selalu optimis dalam hidupnya, meski mungkin ada banyak mangsa yang mengintainya. Tapi si ulat yakin bahwa suatu saat nanti perjuangannya tak akan sia-sia. Aku ingin terus bersabar dalam proses walau tak lupa untuk berpasrah pada Allah SWT Yang Maha Kuasa untuk semua kehendaknya atas usahaku nanti. Tapi yang terpenting adalah sekarang, aku harus yakin terlebih dahulu bahwa semua perjuanganku, pengorbananku, kerja kerasku, bahkan setetes keringatku sekalipun tak akan pernah sia-sia untuk mencapai sebuah masa depan yang aku impikan. Dan pada akhirnya ilmu itu pun mengalah, yang mau tidak mau ilmu itu dapat menempel dengan mudahnya dalam otakku dan bahkan dalam alam bawah sadarku.
Tapi di sisi lain ada sebuah paradoks dalam pikiranku, APA IMPIANKU? Sedangkan dari tadi aku membahas impian dan masa depan? Aku sendiri sejujurnya belum yakin pasti akan impianku sendiri, tapi aku yakin dalam hatiku telah ada sebersit harapan yang mungkin bisa disebut sebuah masa depan yang aku inginkan tapi bukanlah sebuah cita-cita. Ini hanyalah sebuah harapan atau lebih tepatnya amanah yang ingin aku tuntaskan sampai akhir. Amanah pendidikan yang harus aku rampungkan tepat pada waktunya. Inilah impianku. Apa bisa disebut cita-cita? Mungkin tidak.
Sedangkan cita-citaku sendiri adalah menjadi penulis, sejarahwan, atau orang yang sukses yang bisa keliling dunia? Haha cita-cita yang konyol, tapi disaat kalian yang membacanya menertawakan ketiga impian bodohku tadi, berarti kalian secara tidak langsung sedang mendoakanku agar ketiga cita-citaku itu tercapai. Kok bisa? Yaa karena disaat kalian tertawa berarti kalian menganggapku tidak bisa mewujudkan semua cita-citaku itu, dan disaat itu pulalah keajaiban Allah SWT yang bekerja. Allah SWT paling tidak suka saat tahu hambanya menertawakan hambanya yang lain hanya karena meremehkan kemampuan hambanya yang ditertawai tadi. Karena kalian sama saja meremehkan yang telah menciptakan sekaligus yang memberikan kemampuan tersebut, yaa siapa lagi kalau bukan Allah SWT Yang Maha Mencipta sekaligus Maha Memberi. Maka dari itu kenapa saat seseorang dihina dan dilecehkan maka semakin banyak keajaiban dan nikmat yang tak terduga yang diberikan kepadanya dari Allah SWT melalui berbagai perantara. Tapi kebanyakan orang-orang yang telah diberi kenikmatan tersebut, lebih sering lupa kepada Sang Maha Pemberi kenikmatan tersebut ya siapa lagi kalau bukan Allah SWT. Astaghfirullah semoga kita semua diselamatkan oleh-Nya akan kelupaan tentang bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.
Yaa kembali ke ketiga cita-citaku tadi. Entahlah aku dapat darimana inspirasi tentang ketiga cita-citaku tadi. Mungkin mereka bertiga telah berkomplot untuk merasuk dalam pikiranku dan diam-diam mempengaruhi memori otakku agar menyimpan mereka dalam database yang berjudul "CITA-CITA".
Yaa sekarang tekadku sudah bulat, sebulat bola sepak yang habis dipompa dan akan digunakan untuk bermain. Empuk tapi juga keras. Menyenangkan jika ditendang, tapi menyakitkan jika mengenai kepala. Aku harus eh maksudku aku pasti bisa memperjuangkan sebuah amanah dari bangsaku dan membawa harum ilmuku untuk ku persembahkan pada ibu pertiwi. Tak peduli apa cita-citaku dan keinginanku atas hidupku, aku yakin amanah ini adalah sebuah paket hadiah dari apa yang aku pilih yang didalamnya terdapat perjuangan, pengorbanan, keteguhan hati, ketetapan jiwa, kemantapan niat, dan kebulatan tekad. Yang semuanya harus aku tuntaskan sampai akhir dengan hasil yang menawan, meskipun dibutuhkan ratusan tetesan keringat, ribuan kali bangkit dari keterpurukan, jutaan langkah menerobos semak belukar hambatan, serta milyaran do'a penumbuh rasa semangat dan optimisme, sekaligus triliunan rasa berserah diri dan pasrah kepada Allah SWT mengharapkan hasil akhir yang terbaik atas semua usaha yang telah aku lakukan.
Bismillahirohmanirohim
dengan ini aku nyatakan aku akan berperang melawan diriku sendiri agar aku tak lalai lagi atas amanah yang telah diberikan padaku. Dan akan aku buktikan bahwa cita-citaku dan impianku sekaligus amanah tersebut adalah sebuah kenyataan yang (akan) terwujud di masa depan.
Lihat saja saat seekor ulat menjalani kehidupannya dengan lambat, memakan daun disekelilingnya tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dibalik sikapnya yang gemulai menari di atas daun, ternyata aku sadar ada sebuah sikap kepasrahan disana. Ulat itu pasrah, apakah nantinya ia akan dimakan ayam atau burung? Atau malah mendapat sebuah keajaiban? Metamorfosis. Menurutku metamorfosis yang paling indah adalah metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Dalam sebuah proses yang panjang itu, si ulat terus bersabar dan berpasrah atas takdirnya tapi ulat itu juga terus berusaha untuk mempertahankan hidupnya yaitu dengan cara memakan daun-daunan yang ada di sekitarnya. Coba saja jika si ulat hanya berpasrah dan bersabar tanpa berusaha terlebih dahulu mempertahankan hidupnya, mungkin di dunia ini tak akan ada kupu-kupu cantik lagi. Ulat tak pernah mengeluh, kenapa dia dilahirkan begitu jelek dan begerak lambat? Yaa tentu saja karena ulat tak punya pita suara seperti kita jadi kita tak akan pernah mendengar ulat mengeluh. Hehe :D
Tapi menurutku jika si ulat memiliki pita suara sekalipun, si ulat pun tak akan pernah mengeluh. Karena setiap ulat pasti tahu karena dibalik kejelekan dan kesengsaraan dalam menjalani hidupnya, suatu saat nanti ia akan berubah menjadi seekor makhluk yang menawan bernama kupu-kupu. Yang tentu saja sangat berbeda dengan kehidupannya saat menjadi ulat. Kini ulat itu pun dapat terbang bebas sesuka hatinya. Tak lagi iri pada burung. Kini ia bisa menghisap manisnya sari bunga, tak lagi iri pada lebah. Dan kini ia pun memiliki kedua sayap yang indah, yang mungkin didambakan oleh seluruh makhluk yang ada. Kini tak ada lagi yang berani menghinanya seperti dulu, tapi yang ada semua terkagum-kagum padanya. Kupu-kupu pun tak lekas bersombong diri karena siklus hidup kupu-kupu tak lama kawan. Hanya beberapa minggu setelah ia bermetamorfosis. Kemudian ia akan kembali berpulang ke Rumah dari segala rumah. Tak ada lagi kedua sayap yang indah, sayap yang menyejukkan hati yang melihatnya, sayap yang merupakan simbol kerja kerasnya dulu. Semuanya telah sirna. Tapi sirnanya dua buah sayap yang menawan, maka muncullah 4, 6, 8, sayap yang lebih menawan yang siap mewarnai cakrawala. Begitulah kehidupan, yang mati selalu digantikan oleh yang hidup.
Aku juga ingin menerapkan sikap si ulat yang begitu berjuang keras, tak kenal lelah, selalu optimis dalam hidupnya, meski mungkin ada banyak mangsa yang mengintainya. Tapi si ulat yakin bahwa suatu saat nanti perjuangannya tak akan sia-sia. Aku ingin terus bersabar dalam proses walau tak lupa untuk berpasrah pada Allah SWT Yang Maha Kuasa untuk semua kehendaknya atas usahaku nanti. Tapi yang terpenting adalah sekarang, aku harus yakin terlebih dahulu bahwa semua perjuanganku, pengorbananku, kerja kerasku, bahkan setetes keringatku sekalipun tak akan pernah sia-sia untuk mencapai sebuah masa depan yang aku impikan. Dan pada akhirnya ilmu itu pun mengalah, yang mau tidak mau ilmu itu dapat menempel dengan mudahnya dalam otakku dan bahkan dalam alam bawah sadarku.
Tapi di sisi lain ada sebuah paradoks dalam pikiranku, APA IMPIANKU? Sedangkan dari tadi aku membahas impian dan masa depan? Aku sendiri sejujurnya belum yakin pasti akan impianku sendiri, tapi aku yakin dalam hatiku telah ada sebersit harapan yang mungkin bisa disebut sebuah masa depan yang aku inginkan tapi bukanlah sebuah cita-cita. Ini hanyalah sebuah harapan atau lebih tepatnya amanah yang ingin aku tuntaskan sampai akhir. Amanah pendidikan yang harus aku rampungkan tepat pada waktunya. Inilah impianku. Apa bisa disebut cita-cita? Mungkin tidak.
Sedangkan cita-citaku sendiri adalah menjadi penulis, sejarahwan, atau orang yang sukses yang bisa keliling dunia? Haha cita-cita yang konyol, tapi disaat kalian yang membacanya menertawakan ketiga impian bodohku tadi, berarti kalian secara tidak langsung sedang mendoakanku agar ketiga cita-citaku itu tercapai. Kok bisa? Yaa karena disaat kalian tertawa berarti kalian menganggapku tidak bisa mewujudkan semua cita-citaku itu, dan disaat itu pulalah keajaiban Allah SWT yang bekerja. Allah SWT paling tidak suka saat tahu hambanya menertawakan hambanya yang lain hanya karena meremehkan kemampuan hambanya yang ditertawai tadi. Karena kalian sama saja meremehkan yang telah menciptakan sekaligus yang memberikan kemampuan tersebut, yaa siapa lagi kalau bukan Allah SWT Yang Maha Mencipta sekaligus Maha Memberi. Maka dari itu kenapa saat seseorang dihina dan dilecehkan maka semakin banyak keajaiban dan nikmat yang tak terduga yang diberikan kepadanya dari Allah SWT melalui berbagai perantara. Tapi kebanyakan orang-orang yang telah diberi kenikmatan tersebut, lebih sering lupa kepada Sang Maha Pemberi kenikmatan tersebut ya siapa lagi kalau bukan Allah SWT. Astaghfirullah semoga kita semua diselamatkan oleh-Nya akan kelupaan tentang bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.
Yaa kembali ke ketiga cita-citaku tadi. Entahlah aku dapat darimana inspirasi tentang ketiga cita-citaku tadi. Mungkin mereka bertiga telah berkomplot untuk merasuk dalam pikiranku dan diam-diam mempengaruhi memori otakku agar menyimpan mereka dalam database yang berjudul "CITA-CITA".
Yaa sekarang tekadku sudah bulat, sebulat bola sepak yang habis dipompa dan akan digunakan untuk bermain. Empuk tapi juga keras. Menyenangkan jika ditendang, tapi menyakitkan jika mengenai kepala. Aku harus eh maksudku aku pasti bisa memperjuangkan sebuah amanah dari bangsaku dan membawa harum ilmuku untuk ku persembahkan pada ibu pertiwi. Tak peduli apa cita-citaku dan keinginanku atas hidupku, aku yakin amanah ini adalah sebuah paket hadiah dari apa yang aku pilih yang didalamnya terdapat perjuangan, pengorbanan, keteguhan hati, ketetapan jiwa, kemantapan niat, dan kebulatan tekad. Yang semuanya harus aku tuntaskan sampai akhir dengan hasil yang menawan, meskipun dibutuhkan ratusan tetesan keringat, ribuan kali bangkit dari keterpurukan, jutaan langkah menerobos semak belukar hambatan, serta milyaran do'a penumbuh rasa semangat dan optimisme, sekaligus triliunan rasa berserah diri dan pasrah kepada Allah SWT mengharapkan hasil akhir yang terbaik atas semua usaha yang telah aku lakukan.
Bismillahirohmanirohim
dengan ini aku nyatakan aku akan berperang melawan diriku sendiri agar aku tak lalai lagi atas amanah yang telah diberikan padaku. Dan akan aku buktikan bahwa cita-citaku dan impianku sekaligus amanah tersebut adalah sebuah kenyataan yang (akan) terwujud di masa depan.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah membaca blog ini. Berikan komentar/saran/kritik terbaikmu untuk blog ini agar blog ini semakin baik lagi. Terima kasih. Ku doakan masuk surga bagia kalian yang mau nulis di kolom ini. Amiin.