ANTARA CINTA DAN HIV #CERPEN
Sreeettt……
Sebuah kertas meluncur cepat di atas meja makan. Membuat orang di sekitarnya tak lagi berselera untuk makan.
“Kalau hasilnya seperti ini, sampai kapan pun Mamah tidak bisa terima dia jadi calon menantu Mamah.”
“Kenapa, Mah? Bukankah Mamah sudah bersedia menerima Mas Dirga bagaimanapun hasilnya?”
“Hanya kalau hasilnya negatif, Aini.”
Aini semakin tertunduk di atas piring makannya yang belum habis. Nasi goreng udang buatan Bibi—yang menjadi makanan kesukaannya—kini menjadi hambar. Sedikit embun mulai tampak di lensa matanya, namun ditahan agar tak menjadi anak sungai di pipi. Mamahnya sebenarnya kasihan pada Aini, tapi mau bagaimana lagi, hal ini demi kebaikannya. Kertas putih yang dilempar Mamahnya adalah tersangka dimulainya perdebatan ibu dan anak ini. Kertas itu masih diam di tempat yang sama dengan memampang tulisan “POSITIF” yang dicetak tebal di baris paling bawah pada kolom “Hasil Tes HIV/AIDS”.
“Apa selama ini kau tak pernah mencari tahu masa lalu Dirga? Siapa tahu dulunya dia pecandu atau suka main perempuan?”
“Mah, tolong jaga ucapan Mamah.”
Suara Aini bergetar. Hatinya tak tega mendengar tuduhan Mamahnya. Jantungnya sudah berdegup kencang sedari tadi. Tangannya mengepal menahan emosi. Mulutnya dipaksa untuk mengatup, menahan beribu kata yang ingin dilontarkan untuk membela calon suaminya.
“Aini tak pernah mengungkit-ungkit masa lalu Mas Dirga, Mah. Yang berlalu biarlah berlalu, Aini hanya ingin melalui masa depan bersama Mas Dirga.”
“Kau ini bodoh atau munafik? Bukti sudah di depan mata, tapi kau tetap membela dia?”
“Mamah kan sudah keliling kota untuk memberikan penyuluhan kepada penderita HIV/AIDS agar bisa hidup dan bergaul selayaknya orang normal, kenapa Mamah tidak bisa memberi kesempatan Mas Dirga untuk memulai kehidupan yang baru bersamaku?”
“Dia boleh memulai kehidupan yang baru, asal jangan dengan anakku”
Mamahnya menatap Aini tajam. Tatapan yang selama ini belum pernah ia rasakan. Aini gamang. Ia ingin melawan. Tapi di depannya adalah ibunya, yang sudah melahirkan dan membesarkan dia dengan seorang diri. Walaupun, Mamahnya adalah seorang ibu tunggal, tapi kemandiriannya dalam membesarkan anak semata wayangnya tak pernah diragukan. Kesetiaan tiada tara pada Papahnya Aini, ia pegang teguh hingga kini. Papahnya Aini meninggal dalam kecelakaan saat Mamahnya sedang melahirkan Aini. Aini yang tumbuh tanpa ayah, membuat dia mau tak mau menjadi perempuan yang mandiri dan keras kepala.
Tapi berkat Mamahnya pula, ia mampu meraih gelar sarjana satu tahun yang lalu. Saat wisudanyalah, dia bertemu Dirga. Seorang yang lebih tua dua tahun, namun menjadi teman kuliah seangkatan. Awal pertemuannya sangat direstui oleh Mamahnya. Karena Dirga adalah laki-laki santun yang tak pernah luput mengucapkan salam saat berkunjung dan berpamitan saat pulang. Juga terkadang membawa martabak—makanan kesukaan Mamahnya. Dirga juga seorang yang agamis, karena selalu ke masjid saat waktu sholat. Sholatnya tak pernah telat dan bolong-bolong.
Tapi, beberapa bulan lalu saat Mamahnya didaulat menjadi Duta HIV/AIDS, semuanya menjadi berubah. Mamah langsung menyarankan tes HIV/AIDS pada Dirga jika ingin melangsungkan pernikahan dengan Aini. Katanya jika memang terdeteksi terkena HIV/AIDS bisa ditangani secara cepat. Sekarang ketika hasilnya sudah keluar semua, Mamah menjadi tak suka dengan Dirga.
“Mamah hanya ingin yang terbaik buat kamu, Aini.”
“Tapi yang terbaik buat Aini hanya Mas Dirga, Mah”
Dengan suara isak yang tertahan, Aini masih mencoba mempertahankan Dirga. Walaupun embun di matanya sudah mengumpul terlalu banyak dan entah sampai kapan bisa bertahan. Aini tak peduli. Ia hanya ingin Mas Dirga yang menjadi suaminya kelak.
“Aini sayang, dengarkan Mamah, nak. Dirga memang orang yang baik, tapi dia akan lebih baik jika melanjutkan kehidupan bukan denganmu.”
“Kenapa, Mah? Karena kertas ini? Memangnya kertas ini berhak apa memutuskan mana suami yang cocok untuk Aini. Apapun hasil tesnya, Aini sudah ridho lahir batin, Mah.”
Aini kembali memegang kertas yang sedari tadi diam di tempat. Lalu menyodorkan ke arah Mamahnya.
“Cinta itu tak mengenal batas jarak dan waktu. Seperti cintanya Mamah dan Papah yang terus setia walaupun sudah berbeda dimensi ruang dan waktu. Aini dan Mas Dirga juga sama, Mah. Kami ingin mempertahankan cinta kami, walaupun kertas ini berusaha memisahkan kami dengan hasil positif.”
“Cukup, Aini. Cinta Mamah dan Papah itu berbeda dengan cinta kalian. Jangan pernah kamu bandingkan cinta tulus dan suci Mamah pada Papahmu, dengan cinta semu kamu dengan Dirga.”
“Cinta Semu? Bagian mana yang semu, Mah? Semua terlihat nyata, aku menerima dengan lapang dada apa pun yang terjadi dengan Mas Dirga. Sekalipun nanti kami tidak akan mempunyai anak, setidaknya kami akan hidup bersama hingga maut memisahkan.”
“Tak usahlah kau bermimpi terlalu tinggi, percayalah pada Mamah. Kau tak akan bahagia hidup dengan seseorang yang tak bisa memberikan nafkah batin. Kau masih muda, pantas untuk mendapatkan yang lebih layak untuk kehidupanmu. Lagipula darimana lagi Mamah akan mendapatkan cucu selain dari kamu. Kamu tega membiarkan Mamah hidup sendiri dan kesepian hingga mati tak pernah merasakan kehadiran seoang cucu?”
“Bukan begitu maksud Aini, Mah.”
“Sudahlah Aini, kau putuskan saja Dirga dan carilah yang pantas untukmu.”
“Maaf, Mah. Keputusan Aini sudah bulat, Aini hanya ingin Mas Dirga.”
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari telepon genggam Mamahnya. Mamah dengan sigap mengusap layarnya dan menaruhnya di telinga.
“Halo, ada apa?”
“…”
“Iya tunggu saya, sebentar lagi saya akan kesana.”
Mamah langsung menutup percakapan di teleponnya. Semenjak menjadi Duta HIV/AIDS Mamahnya menjadi sibuk. Kadang pergi keluar kota berhari-hari. Katanya, Mamahnya juga sedang dipromosikan untuk menjadi caleg di PILKADA selanjutnya. Entah kompetensi apa yang dimiliki Mamahnya hingga dia berani terjun di dunia politik. Aini curiga, jabatan Duta HIV/AIDS hanyalah batu loncatan saja untuk menarik perhatian masyarakat agar banyak yang memilihnya di pemilihan nanti.
“Aini, Mamah sudah enggak mau tahu tentang hubunganmu dengan Dirga lagi.”
“…” Aini hanya diam tertunduk.
“Kalau kau masih bersikeras untuk menikah dengan Dirga, maafkan Mamah kalau Mamah tidak akan menganggap kamu sebagai anak lagi.”
Kata-kata Mamah ketus. Tatapannya sudah lelah menghadapi Aini yang keras kepala. Aini semakin terisak dalam diamnya. Embun yang tertahan di matanya, kini sudah mengalir deras di pipi. Kemudian jatuh membasahi setelan kerudung merah muda yang dipakainya. Aini tahu, keinginan Mamah tak bisa dibantah lagi. Aini menyayangi Mamah tapi juga tak bisa melepas begitu saja lelaki yang dicintainya.
Tanpa disadari, percakapan ibu dan anak itu didengar oleh seseorang yang tak sengaja datang dan melihat pintu depan terbuka. Dia tak berani masuk, karena ini bukan rumahnya. Ditambah suara keras dari arah meja makan terdengar jelas sampai ke teras. Samar-samar dia mendengar namanya disebut berulang kali. Karena rasa penasaran, jadilah ia memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Dan berdiri dibalik tembok yang memisahkan ruang tamu dan ruang makan. Membuat percakapan itu menjadi jelas terdengar. Entah sudah berapa lama, dia berdiri disitu. Sekuntum bunga mawar yang dibawa di tangan kananya, tak sengaja dia remas. Bunga mawar itu seharusnya diberikan untuk calon istrinya. Sedikit demi sedikit kelopaknya jatuh karena goncangan keras dari tangan yang memegangnya. Matanya perlahan mulai terbentuk kaca-kaca yang siap pecah kapan saja. Sebenarnya, setelah hasil tes itu keluar dia sadar, mau tak mau dia harus menerima semua keputusan, termasuk jika pernikahannya juga harus dibatalkan. Hatinya tak tega melihat Aini terisak disana. Dia sadar, kehadirannya justru akan memperkeruh suasana. Tapi kakinya begitu berat untuk melangkahkan kaki pergi meninggalkan rumah itu dan membiarkan wanita yang dicintainya bersedih. Dia ingin menghiburnya dan membuatnya kembali tertawa. Tapi semuanya sudah terlambat. Karena hasil positifnya telah merubah segalanya, termasuk masa depan indah yang terlanjur dirancang.
“Mamah sekarang mau pergi.”
“…”
“Semua keputusan ada di tanganmu, jika sampai nanti ada undangan pernikahan di rumah ini, maafkan jika Mamah tak akan pernah datang.”
Mamahnya pergi sambil menenteng tas. Aini masih di tempat yang sama. Terisak. Air matanya sudah membanjiri pipinya, tak tahu sudah berapa liter air ditumpahkan. Aini tak tahu bahwa Dirga datang dan mendengar pembicaraan mereka. Mamahnya pun tak tahu kalau Dirga sudah berdiri di ruang tamu entah sejak kapan. Suara sepatu Mamahnya semakin mendekat ke ruang tamu. Dirga bingung harus bagaimana. Jika pergi dan kabur sekarang, tak mungkin, karena pasti akan tetap berpapasan di halaman depan. Lagipula entah kenapa kakinya seperti kaku tak bisa digerakkan. Tertancap di tempat yang sama seolah ingin mempertahankan posisinya di rumah itu dan juga di hati penghuninya. Mamah Aini sudah membelokkan diri ke ruang tamu. Mamahnya terkejut melihat Dirga yang sedang berdiri di ruangan itu. Matanya menatap bingung. Antara ingin mengusir dari rumahnya atau hati anak semata wayangnya. Dirga hanya diam di tempat, tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa pasrah.
Telepon Mamah kembali berdering—tepat saat mulutnya akan melontarkan kalimat pada Dirga.
“Iya tunggu sebentar, 10 menit lagi saya akan sampai disana.” kata Mamah di telepon.
Dengan mata yang tajam menatap Dirga, Mamah pergi melewati tubuhnya. Kata-kata yang siap dilemparkan untuk Dirga tiba-tiba menghilang dan menguap. Mamahnya hanya membiarkan begitu saja dan meninggalkan Dirga yang terpaku di ruang tamu. Deru mobil Mamah langsung terdengar, melaju meninggalkan rumah.
Dirga mengintip dari balik tembok, Aini masih terduduk di bangku yang sama. Ingin sekali dia membelai dan menghapus air matanya. Tapi semua itu seolah sia-sia, tak bisa merubah keadaan. Dia tak ingin Aini menjadi anak durhaka pada Mamahnya demi dirinya. Dia ingin Aini menjadi kuat, walaupun kenyataannya mereka sudah tak bisa bersama lagi. Meskipun, hatinya hancur tak bisa bersanding dengan Aini di pelaminan, tapi kebahagiaan Aini lebih penting.
Kini, bunga mawar di tangan kanannya sudah hampir habis kelopaknya. Hanya beberapa tangkai saja yang masih berkelopak utuh. Diletakkannya di meja dekat dia berdiri. Perlahan namun pasti, kakinya melangkah menuju pintu. Tapi sebelumnya, dia masih menyempatkan melihat Aini untuk yang terakhir kali. Meskipun, dia seorang lelaki, namun air matanya tak bisa berbohong. Baginya, hal yang paling menyakitkan adalah melihat seorang wanita menangis. Dia sangat tak tahan jika melihat seorang wanita tersakiti bahkan hingga menangis. Karena dulu, pernah ada seorang wanita yang sangat dicintainya harus tersakiti bertahun-tahun bahkan hingga mempertaruhkan nyawanya demi dia. Wanita yang hingga kini fotonya masih tersimpan rapi di dalam dompetnya. Meskipun, wanita itu pula yang telah menularkan penyakit ini padanya, tapi Dirga tetap menyayanginya sampai sekarang. Wanita itu adalah Ibunya sendiri. Dirga sadar, bukan salah Ibunya menularkan penyakit ini. Tapi Ayahnyalah, yang harus bertanggung jawab atas penyakit terkutuk ini. Ayahnya adalah pencandu narkoba, dia meninggal 10 tahun lalu akibat over dosis dan HIV/AIDS yang sudah sangat parah. Kemudian disusul Ibunya meninggal 5 tahun berikutnya karena tertular HIV/AIDS.
Tapi, Dirga tak pernah menyalahkan takdir yang menentukan bahwa dia harus berkenalan dengan penyakit yang tak ada obatnya ini. Dia tahu betul bahwa penyakitnya sampai kapan pun tak akan bisa sembuh. Dia juga sadar hubungannya dengan Aini akan menyakiti banyak orang, termasuk Aini sendiri. Mau tak mau, keputusan harus diambil demi kebaikan Aini. Dirga sadar akan membuat Aini sedih dan membencinya, tapi mau bagaimana lagi hal ini demi kebaikan Aini.
Kakinya sedikit demi sedikit melangkah keluar. Tangannya merogoh saku celananya. Mengeluarkan telepon genggamnya. Memijit tombolnya dan menuliskan pesan singkat untuk Aini.
Aini, Maafkan Mas, mungkin sampai disini saja hubungan kita. Mas tak pantas untukmu. Semoga kau mendapatkan lelaki yang lebih baik dan lebih sehat dari Mas. Maaf dan terima kasih untuk semuanya. Selamat Tinggal.
Dikirimnya pesan singkat itu ke Aini. Telepon genggamnya kemudian dimatikan dan mengeluarkan kartu simnya. Dirga benar-benar ingin melupakan semuanya. Walaupun sakit di ulu hatinya begitu perih, tapi dia yakin dengan keputusan ini. Aini akan kembali bahagia walaupun tanpa dirinya.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah membaca blog ini. Berikan komentar/saran/kritik terbaikmu untuk blog ini agar blog ini semakin baik lagi. Terima kasih. Ku doakan masuk surga bagia kalian yang mau nulis di kolom ini. Amiin.