CERITA GOMBAL YANG SERIUS #CERPEN






Secangkir kopi hangat tersaji di atas meja. Baunya yang khas langsung menyeruak di sela-sela ruang tamu. Kepulan asap dari cangkir kopi terlihat samar, namun sudah membuat hidung ini menikmati aroma yang paling kusuka. Kopi hitam.
            “Masih suka dengan kopi hitam?” Suara yang sangat kurindukan, akhirnya datang juga.
            “Lumayan, sejak kapan kamu disana?”
            “Ya, beberapa menit sebelum kamu tenggelam menikmati kopimu.” katanya dengan senyum  yang membuat matanya hanya terlihat segaris. Sungguh Lucu.
            “Sudah makan belum? Ini kubelikan bakso di ujung gang.”
            “Waaahhh, terima kasih, kebetulan aku memang belum makan, tunggu sebentar aku ambilkan mangkuk dan sendok ya.”
            Aku pun berlari ke arah dapur mengambil dua mangkuk dan sendok. Lalu kembali duduk disampingnya. Menyendok beberapa  kuah ke mulut sungguh membuat kehangatan turun ke tenggorokan.
            “Sudah dapat jawaban tentang pertanyaanku semalam?” ujarnya santaii sambil menyeruput kuah bakso. Pertanyaan yang sederhana, namun cukup membuat tenggorokanku tersedak.
            “…” Seketika sendok yang sedang kupegang langsung kutaruh di atas mangkuk. Diam dan mataku mulai menerawang tentang kejadian semalam.

***
           
            “Sintya, bagaimana jika 2018 saja?” Lelaki yang kucintai itu terus saja mendesakku.
            “2018 atau 2019.” Aku menggeleng sambil menatap matanya. Ternyata aku kalah, tatapannya lebih serius dari biasanya. Alhasil, akulah yang harus membuang muka, tak tahan menatap mata itu. Mata yang sedang berusaha meyakinkanku tentang masa depan.
            “Kenapa?  Kamu belum serius sama aku?”
            “Aku serius Mas, tapi tidak secepat itu, sekarang tahun 2016, dua tahun lagi sudah 2018.”
            “Kalau kamu tidak mau secepat itu, lalu kamu mau kapan?”
            “Kalau aku sudah siap.”
            “Kapan?”
            “…” Lagi-lagi aku dibuat diam olehnya. Bingung oleh pernyataan dan pikiranku sendiri.
            “Kau tahu, aku sudah membuat rencana hidupku.”
            “Rencana bagaimana aku menata impianku, dan salah satunya aku ingin menjalaninya bersamamu” kata-katanya begitu halus dan lembut. Matanya menatapku lekat, membuatku tak bisa berkutik.
            “Memangnya bekal apa yang sudah kau punya, hingga kau beranii membawaku untuk hidup bersamamu?”
            “Aku sudah menabung, walaupun tak banyak tapi jika kita sudah bersatu, itu akan menjadi lebih banyak.”
            “Bekal tak hanya soal uang, tapi juga tentang kesiapan mental dan spiritual,” mataku tak kalah tajam menatapnya.
            “Apa kau siap menjadi suami yang nantinya membimbing istri dan anak-anakmu kelak di jalan yang di ridhoi-Nya? Apa kau tahu, jika akad sudah diucapkan dosa-dosa istrimu bukan lagi orang tuanya yang menanggung, tapi semuanya akan dilimpahkan padamu, apa kau siap dengan semua resiko?”
            “Insya Allah, sudah aku siapkan, semua itu soal pembelajaran, jika kita selalu bilang tidak siap, kapan kita akan mulai belajar.”
            “Rumah tangga bukan main-main, yang jika tidak menyenangkan kamu bisa pergi seenakmu. Rumah tangga bukan hanya soal kita berdua dan kedua keluarga yang bersatu. Tapi soal membangun sebuah generasi, aku tidak tahu apakah aku sudah pantas menjadi panutan oleh anak-anakku kelak.”
            “Pantas tidak pantas, itu bukan kita yang menilai. Yang perlu kita lakukan hanyalah, jalani dan yakini.”
            Desiran angin malam itu tiba-tiba menghadirkan hawa dingin di ruang tamu rumah kontrakanku. Kupandang jam dinding, ternyata sudah lewat jam sepuluh malam.
            “Sudah jam 10 lebih, tak baik jika kamu bertamu terlalu malam.”
            “Baiklah, aku akan pulang.”
            Aku mengantarnya pulang sampai pagar. Suasana kikuk setelah obrolan serius tadi masih terasa.
            “2018 kan?” ujarnya sambil menghidupkan mesin sepeda motor.
            “eh?”
            “Kutunggu jawabanmu besok, Sintya.”
            “…”Aku hanya menunduk, tak berkata apa-apa.
            “Assalamualaikum,”
            “wa’alaikumsalam.” Dia pergi sambil melambaikan tangan, meninggalkan rumah kontrakanku.

***

                Jadi bagaimana? 2018, kan?”
            Kunyahan bakso di mulutku belum juga habis, tapi pertanyaan itu membuat napsu makanku hilang seketika.
            “Aku masih memikirkannya, Mas”
            “Ya sudah, kalau kamu tak serius dan tak berniat menikah denganku.”
            “Bukan begitu maksudku, Mas, aku ingin sekali menikah denganmu, aku cinta kamu, Mas.” Aku tertunduk agak lama, berusaha menata kata yang pas.
            “Tapi aku ingin membahagiakan Bapak dulu, Mas. Aku ingin bekerja, lalu membangun rumah untuk kedua orang tuaku dan membawa mereka naik haji.”
            “Ya sudah, kalau itu mau kamu, aku tak akan memaksa. Itu sudah kewajibanmu,” sedikit ada kecewa di matanya.
            “Tapi, Mas mau menunggu aku, bukan?”
            “Insya Allah.”
            “Mas, juga tak akan berpindah ke lain hati, bukan?”
            “Insya Allah.”
            “Kenapa Mas mau melakukan itu semua?”
            “Karena aku sudah menemukan pelabuhan terakhirku, jika itu peraturan dari sang pelabuhan, mau dikata apalagi aku hanya bisa menuruti.” Ujarnya sambil tersenyum memandangku. Senyumnya kali ini membuat bola matanya tak  




Secangkir kopi hangat tersaji di atas meja. Baunya yang khas langsung menyeruak di sela-sela ruang tamu. Kepulan asap dari cangkir kopi terlihat samar, namun sudah membuat hidung ini menikmati aroma yang paling kusuka. Kopi hitam.
            “Masih suka dengan kopi hitam?” Suara yang sangat kurindukan, akhirnya datang juga.
            “Lumayan, sejak kapan kamu disana?”
            “Ya, beberapa menit sebelum kamu tenggelam menikmati kopimu.” katanya dengan senyum  yang membuat matanya hanya terlihat segaris. Sungguh Lucu.
            “Sudah makan belum? Ini kubelikan bakso di ujung gang.”
            “Waaahhh, terima kasih, kebetulan aku memang belum makan, tunggu sebentar aku ambilkan mangkuk dan sendok ya.”
            Aku pun berlari ke arah dapur mengambil dua mangkuk dan sendok. Lalu kembali duduk disampingnya. Menyendok beberapa  kuah ke mulut sungguh membuat kehangatan turun ke tenggorokan.
            “Sudah dapat jawaban tentang pertanyaanku semalam?” ujarnya santaii sambil menyeruput kuah bakso. Pertanyaan yang sederhana, namun cukup membuat tenggorokanku tersedak.
            “…” Seketika sendok yang sedang kupegang langsung kutaruh di atas mangkuk. Diam dan mataku mulai menerawang tentang kejadian semalam.

***
           
            “Sintya, bagaimana jika 2018 saja?” Lelaki yang kucintai itu terus saja mendesakku.
            “2018 atau 2019.” Aku menggeleng sambil menatap matanya. Ternyata aku kalah, tatapannya lebih serius dari biasanya. Alhasil, akulah yang harus membuang muka, tak tahan menatap mata itu. Mata yang sedang berusaha meyakinkanku tentang masa depan.
            “Kenapa?  Kamu belum serius sama aku?”
            “Aku serius Mas, tapi tidak secepat itu, sekarang tahun 2016, dua tahun lagi sudah 2018.”
            “Kalau kamu tidak mau secepat itu, lalu kamu mau kapan?”
            “Kalau aku sudah siap.”
            “Kapan?”
            “…” Lagi-lagi aku dibuat diam olehnya. Bingung oleh pernyataan dan pikiranku sendiri.
            “Kau tahu, aku sudah membuat rencana hidupku.”
            “Rencana bagaimana aku menata impianku, dan salah satunya aku ingin menjalaninya bersamamu” kata-katanya begitu halus dan lembut. Matanya menatapku lekat, membuatku tak bisa berkutik.
            “Memangnya bekal apa yang sudah kau punya, hingga kau beranii membawaku untuk hidup bersamamu?”
            “Aku sudah menabung, walaupun tak banyak tapi jika kita sudah bersatu, itu akan menjadi lebih banyak.”
            “Bekal tak hanya soal uang, tapi juga tentang kesiapan mental dan spiritual,” mataku tak kalah tajam menatapnya.
            “Apa kau siap menjadi suami yang nantinya membimbing istri dan anak-anakmu kelak di jalan yang di ridhoi-Nya? Apa kau tahu, jika akad sudah diucapkan dosa-dosa istrimu bukan lagi orang tuanya yang menanggung, tapi semuanya akan dilimpahkan padamu, apa kau siap dengan semua resiko?”
            “Insya Allah, sudah aku siapkan, semua itu soal pembelajaran, jika kita selalu bilang tidak siap, kapan kita akan mulai belajar.”
            “Rumah tangga bukan main-main, yang jika tidak menyenangkan kamu bisa pergi seenakmu. Rumah tangga bukan hanya soal kita berdua dan kedua keluarga yang bersatu. Tapi soal membangun sebuah generasi, aku tidak tahu apakah aku sudah pantas menjadi panutan oleh anak-anakku kelak.”
            “Pantas tidak pantas, itu bukan kita yang menilai. Yang perlu kita lakukan hanyalah, jalani dan yakini.”
            Desiran angin malam itu tiba-tiba menghadirkan hawa dingin di ruang tamu rumah kontrakanku. Kupandang jam dinding, ternyata sudah lewat jam sepuluh malam.
            “Sudah jam 10 lebih, tak baik jika kamu bertamu terlalu malam.”
            “Baiklah, aku akan pulang.”
            Aku mengantarnya pulang sampai pagar. Suasana kikuk setelah obrolan serius tadi masih terasa.
            “2018 kan?” ujarnya sambil menghidupkan mesin sepeda motor.
            “eh?”
            “Kutunggu jawabanmu besok, Sintya.”
            “…”Aku hanya menunduk, tak berkata apa-apa.
            “Assalamualaikum,”
            “wa’alaikumsalam.” Dia pergi sambil melambaikan tangan, meninggalkan rumah kontrakanku.

***

                “Jadi bagaimana? 2018, kan?”
            Kunyahan bakso di mulutku belum juga habis, tapi pertanyaan itu membuat napsu makanku hilang seketika.
            “Aku masih memikirkannya, Mas”
            “Ya sudah, kalau kamu tak serius dan tak berniat menikah denganku.”
            “Bukan begitu maksudku, Mas, aku ingin sekali menikah denganmu, aku cinta kamu, Mas.” Aku tertunduk agak lama, berusaha menata kata yang pas.
            “Tapi aku ingin membahagiakan Bapak dulu, Mas. Aku ingin bekerja, lalu membangun rumah untuk kedua orang tuaku dan membawa mereka naik haji.”
            “Ya sudah, kalau itu mau kamu, aku tak akan memaksa. Itu sudah kewajibanmu,” sedikit ada kecewa di matanya.
            “Tapi, Mas mau menunggu aku, bukan?”
            “Insya Allah.”
            “Mas, juga tak akan berpindah ke lain hati, bukan?”
            “Insya Allah.”
            “Kenapa Mas mau melakukan itu semua?”
            “Karena aku sudah menemukan pelabuhan terakhirku, jika itu peraturan dari sang pelabuhan, mau dikata apalagi aku hanya bisa menuruti.” Ujarnya sambil tersenyum memandangku. Senyumnya kali ini membuat bola matanya tak terlihat. Hanya dua garis hitam dibawah alisnya. Lucu, dan senyum itulah yang kurindukan darinya. Hujan siang ini, sungguh tak terasa dingin bagiku. Tapi justru membawa kehangatan di hatiku. Bukan hanya karena bakso yang kumakan, tapi kehangatan hati dari si pembawa bakso.




SELESAI
           






Komentar

Postingan populer dari blog ini

INGATKAN AKU !!!

YOUR SECRET ADMIRER (PART 1)