INIKAH KELUARGA? #cerbungE01


BAB 1
HUJAN PERTAMA

            Hujan pertama di bulan desember turun dengan derasnya. Membasahi daun dan batang cemara yang tumbuh di sekitar taman. Membuat bangku–bangku taman menjadi basah. Seorang anak kecil berlindung dibawah atap gedung sekolah depan taman tadi. Bajunya yang putih kini sudah kusam dan celananya yang berwarna merah juga sudah mulai kekecilan. Terlihat sekali dia bukan murid sekolah itu—di sekolah itu tak  pernah ada yang memakai pakaian compang camping seperti ini. Semua muridnya memakai baju bersih, rapih, dan wangi. Tapi dia senang sekali berada di sekolah dekat taman tempat bermain dengan adiknya—taman Bungil namanya. Adiknya yang paling kecil baru berumur 3 tahun—namanya Jamilah, sedangkan adiknya yang lain berumur 6 dan 9 tahun—Dodo dan Bowo. Sudah hampir 3 tahun dia meninggalkan bangku sekolah karena masalah biaya. Seharusnya sekarang dia sudah kelas 2 SMP. Sekolah yang sering ia datangi pun bukan sekolah lamanya. Sekolah lamanya berada jauh di pinggiran kota Banyumas. Karena ayahnya meninggal saat dia kelas 1 SD, ibu dan ketiga adiknya yang masih kecil pun akhirnya pindah ke ibukota untuk mencari kehidupan yang layak. Ayahnya hanya pekerja di perusahaan swasta, uang pensiunannya hanya bertahan selama 1 bulan.
            “Dek, mencari siapa?”
            Suara satpam sekolah itu membuyarkan lamunanya di tengah hujan.
            “Sekolah sudah bubar sejak tadi, kalau adik tidak mencari siapa–siapa, silahkan pergi karena sekolah mau tutup”
            Suara satpam itu halus tak seperti suara satpam yang kemarin mengusirnya, galak dan menuduhnya maling. Mungkin satpam itu baru bertugas dan menemuinya siang ini. Segera anak kecil itu berlari meninggalkan sekolah, sebelum satpam yang galak datang dan mengusirnya lebih kejam lagi.
            Hujan bukannya mereda tapi semakin deras, membuat baju anak itu menjadi basah kuyup. Tak sampai 10 menit, anak itu sudah berada di depan sebuah rumah yang terbuat dari triplek dan seng sebagai atapnya. Rumah itu terlihat sedang berjuang melawan hujan dan angin, berusaha melindungi makhluk yang berlindung di bawah atapnya. Pintu dari seng bekas dibukanya perlahan. Nampak ketiga adiknya sedang tertidur. Tapi adik pertamanya yang sering diajak bermain di taman itu terbangun.
            “Kakak sudah pulang? Ibu mana?”
            “Ibu sedang kerja, pulangnya nanti kalau hujan sudah reda”
            Ibu mereka bekerja menjadi pengasuh sekaligus pembantu di perumahan mewah yang jaraknya lumayan jauh. Ibunya kadang pulang seminggu sekali, atau bahkan tak pulang hingga satu bulan. Tapi sekali ibu mereka pulang, ibunya membawa banyak makanan dan uang. Entah pekerjaan apa yang membuatnya enggan untuk pulang. Jadilah Soleh, sebagai anak pertama merasa mempunyai tanggung jawab besar terhadap ketiga adiknya yang masih kecil. Sering ia berbohong pada adik–adiknya kalau ibunya pulang setelah hujan reda, dan menyuruh mereka kembali tertidur supaya mereka tak menanyakan tentang ibunya lagi. Setelah hujan reda, biasanya ketiga adiknya akan duduk di depan pintu menunggu sosok ibunya datang. Jika mulut mereka lelah menanyakan kedatangan ibunya, mereka lebih banyak diam dan menatap ujung gang dimana biasanya ibu mereka datang. Jika mata mereka juga lelah menunggu, biasanya kasur lusuh akan menjadi tempat mereka memimpikan ibunya datang.
            Setelah semua adiknya tertidur lagi, Soleh duduk diam di atas sajadah  menengadahkan tangan dan memanjatkan doa agar ibunya kembali pulang. Keesokan paginya, Soleh sudah bersiap dengan kotak alat semirnya dan ukulele tergantung di pundaknya untuk mengamen di perempatan lampu merah. Biasanya ketiga adiknya ia titipkan pada Mbah Yanti, yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka. Mbah Yanti sebenarnya tak lebih baik dari mereka, tapi pensiunan pegawai negeri dari suaminya yang sudah meninggal 5 tahun lalu menjadi penghasilan satu–satunya. Mbah Yanti tak punya anak, sanak saudaranya jauh di Kabupaten Magelang sana. Katanya, saudara-saudaranya juga tak jauh beda dengannya, hidup pas-pasan, hanya menggantungkan hidup sebagai petani. Kata Mbah Yanti lagi, lebih enak hidup di Jakarta, apa-apa sudah modern dan serba ada. Mbah Yanti memutuskan pergi ke Jakarta seorang diri 40 tahun lalu, bekerja sebagai pembantu di perumahan elit tapi hanya bertahan dua tahun, pernah juga menjajal dunia malam menjadi pelayan karaoke selama lima tahun,  lalu satu tahun kemudian dia menikah dan meninggalkan dunia malamnya. Sesungguhnya Mbah Yanti bertemu Mbah Brewok—begitulah sebutan untuk suami Mbah Yanti—di tempat karaoke tempatnya bekerja. Kata Mbah Yanti, dia dulu pernah punya anak, tapi dua kali keguguran, dan yang ketiga kalinya anaknya meninggal ketika berumur 10 tahun karena kecelakaan. Sejak itu mereka sudah tidak dikaruniai anak lagi. Namun sepuluh tahun belakangan, Mbah Brewok menderita penyakit struk yang membuatnya tak bisa bangun dari tempat tidur. Sampai akhirnya, Mbah Brewok menyerah pada penyakitnya dan menghembuskan napas terakhir lima tahun lalu. Kesedihan mendalam menyelimuti Mbah Yanti. Tapi kehadirian Sholeh dan adik-adiknya membuat Mbah Yanti merasa Ia punya cucu-cucu baru yang membuatnya tak kesepian lagi. Kedatangan ketiga adik Soleh selalu menjadi hiburan tersendiri untuknya.
            Jalan menuju perempatan lampu merah searah dengan sekolah yang biasa ia datangi. Dia selalu mampir di depan gerbang sekolah yang sudah ditutup, untuk sekedar melihat anak sebayanya sedang upacara atau olahraga di lapangan sekolah. Matanya melihat sekeliling dengan antusias, dulunya dia adalah anak yang pandai. Tapi setelah lama tak bersekolah, kini dia hanya bisa melihat dari kejauhan tentang cita–citanya menjadi dokter. Setelah 10 menit dia berdiri di pintu gerbang, dia segera bergegas pergi meninggalkan sekolah sebelum satpam mengusirnya.
            Terik matahari siang itu semakin membakar kulitnya yang hitam. Sudah seminggu makanan dan uang dari ibunya habis. Mungkin ibunya akan pulang satu atau dua minggu lagi. Sambil menunggu ibunya pulang, biasanya dia mengamen atau menyemir sepatu di prempatan dekat stasiun. Baru pukul sepuluh pagi tapi matahari seperti di atas ubun–ubun, membuat pening kepala. Di depan toko emas yang tutup dekat perempatan, dia beristirahat sejenak menghilangkan rasa lelah. Tiba–tiba di depannya melintas sedan mewah, di dalamnya duduk seorang wanita memakai baju mahal, lalu  di sampingnya ada lelaki tua memakai jas hitam. Mereka bermesraan seolah tak ada yang melihat tingkah laku  mereka di dalam mobil. Soleh hanya sedetik melihat pemandangan itu, tapi dia menoleh kembali, meyakinkan diri kalau yang dilihatnya adalah wanita sangat dikenalnya. Ibunya sendiri.
            Soleh berusaha berlari mengejar mobil sedan mewah itu. Tapi semuanya sia – sia, mobil itu melaju dengan kencangnya entah pergi kemana. Kini dia hanya terduduk lemas di pinggir jalan, memikirkan apakah itu benar-benar ibunya? Kalau memang benar ibunya, lalu kenapa Ibu pergi dengan lelaki yang sama sekali tak dikenalnya? Apakah itu calon Ayah baru untuk dia dan ketiga adiknya?
            Dengan kepala yang masih dipenuhi segudang pertanyaan tentang siapa laki-laki itu, dia tetap melanjutkan pekerjaannya. Beruntung ada bapak-bapak pegawai PNS yang lewat, lalu memintanya menyemirkan sepatunya. Setelah Bapak PNS itu pergi, Bus jurusan Blok M lewat di depannya. Ukulele yang sedari tadi menggantung di punggungnya—kini diraihnya. Kaki kecilnya mengejar bus, kernet meraih tangannya dan tubuh mungilnya mulai naik bus berdesakan diantara penumpang. Dengan suara cempreng dan melengkingnya, dia menyanyikan beberapa lagu hits Dewa dan Peterpan—band kesayangannya. Lagu andanlannya yang tak lupa selalu dinyanyikan adalah lagu ‘kangen’ dari dewa dan ‘Mimpi yang Sempurna’ dari Peterpan. Beberapa penumpang ada yang memandang sinis, dan ada yang memandang kasihan sekaligus iba. Plastik bekas bungkus permen dikeluarkannya untuk menampung uang setelah dia menyanyi. Lumayan, pikirnya, setelah melihat bungkus permen itu terisi setengah penuh. Hari itu lumayan banyak bus yang dia masuki, bungkus permen itu kian menggendut.
Langit sedang menunjukkan lukisan terbaiknya hari ini, perpaduan jingga, merah, dan ungu. Senja yang indah untuk Soleh hari ini, namun senja ini tak bisa membuat Soleh lupa tentang kejadian tadi siang. Ribuan pertanyaan itu masih menggantung di kepalanya, ‘apa benar itu Ibu?’. Adzan maghrib sayup terdengar di tengah kemacetan ibukota, pertanda Soleh harus menjemput ketiga adiknya.
            “Leh, udah pulang?” Tanya Mbah Yanti dari ujung dapur setelah mendengar suara Soleh dari teras. Sambil membukakan pintu, senyum lebarnya tak pernah lepas dari bibir tua itu. “Ayo masuk, itu adik-adikmu udah pada nunggu” Lanjut Mbah Yanti diikuti anggukan kepala Soleh.
            “Udah makan, Leh?” Tanya Mbah Yanti. “Kuwi Mbah masak cah kangkung karo tempe goreng, mesti durung mangan to koe” kata Mbah Yanti sambil membuka tudung saji. “Lha iku loh adik-adikmu yo lagi mangan,” sambil menunjuk ketiga adiknya  yang sedang berhadapan dengan nasi dan lauk pauknya. “Duh Mbah Yanti jadi ngrepotin,” kata Soleh malu. “uwes ora usah isin-isin, ayo mangan”, tangan Mbah Yanti langsung menyambar piring di dekatnya, mengambil dua centong nasi, cah kangkung, dan tempe goreng. Piring itu kini mendarat di hadapan Soleh. Mbah Yanti memang paling tahu kalau Soleh belum makan dari siang. Nasi di depannya langsung dilahapnya, tandas hanya dalam beberapa menit. Pukul 07.00 malam, mereka semua berpamitan. Mbah Yanti mencium anak-anak itu bergantian. Meskipun mereka semua bukan cucu kandung, tapi kasih sayang yang diberikan melebihi kepada cucu kandungnya sendiri. Baru lima langkah meninggalkan teras rumah Mbah Yanti, tiba-tiba Soleh teringat kejadian tadi siang, mungkinkah Mbah Yanti tahu apa yang terjadi dengan Ibu?
            “Dek, kalian pulang dulu ya, nanti Mas nyusul, Mas baru ingat masih ada urusan dengan Mbah Yanti,” kata Soleh pada ketiga adiknya. Mereka bingung, tapi akhirnya mengangguk dan meninggalkan Soleh sendirian. Usai mereka bertiga melambaikan tangan dan mengucap salam, lalu berbelok di ujung gang, Soleh masuk lagi ke dalam rumah dan menemui Mbah Yanti.
            “Assalamu’alaikum, Mbah,” teriak Soleh setelah masuk dan menutup pintu.
            “Wa’alaikumsalam, lho kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?,” tanya Mbah Yanti.
            “Enggak ada, Mbah,” jawab Soleh setelah duduk di samping Mbah Yanti yang sedang menonton tv.
            Ono opo, Leh?,” tanya Mbah Yanti lagi. “Ngomong karo Mbah?,”  Mbah Yanti membelai rambutnya, matanya kini berganti menatap wajah Soleh. Seolah tahu pasti sudah terjadi sesuatu. Soleh salah tingkah, bingung harus mulai darimana.
            “Emm ini tentang Ibu, Mbah,” hanya itu yang keluar dari mulut Soleh.
            “Ibumu kenapa?,” tanya Mbah Yanti lembut.
            “Apa Mbah Yanti tahu pekerjaan Ibu?,” tanya Soleh.
            Belaian itu berhenti seketika. Tangannya dilipat di depan dada. Matanya memandang jauh,  kedua alisnya mendekat, wajahnya menegang. Sorot matanya terlihat seperti ada sesuatu yang disembunyikan Mbah Yanti.
            “Kalau Mbah tidak mau memberi tahu, juga tidak apa-apa,” Kata Soleh memecah keheningan yang tiba-tiba menyelimuti seluruh ruangan.
            “Leh, Ibumu itu bekerja siang dan malam, hanya untuk kamu dan adik-adikmmu. Jadi jangan khawatirkan dia, dia baik-baik saja. Jika uang yang terkumpul sudah banyak dia pasti kembali dan membelikan kalian baju-baju bagus, makanan enak, dan kalian bisa sekolah lagi.” Kata Mbah Yanti.
            “Tapi tadi siang, aku melihat dia bersama seorang laki-laki kaya di dalam mobil mewah,” cerita Soleh. “Mbah Yanti tahu siapa dia?,” Tanya Soleh penasaran.
            “Lelaki? Mbah baru dengar cerita ini. Ibumu tak pernah bercerita tentang laki-laki mana pun. Atau kamu pasti salah lihat, Leh. Mana mungkin Ibu mu menaiki mobil mewah.” Mbah Yanti agak bingung dengan pertanyaan Soleh. Ibunya Soleh memang sering datang ke rumah Mbah Yanti, sekedar untuk berterima kasih karena sudah menjaga anak-anaknya ketika ia tidak di rumah karena bekerja. Selain itu, Ibunya Soleh tak bercerita apa-apa. Tapi, memang ada satu hal yang tak boleh diberitahukan kepada Soleh dan adik-adiknya jika belum saatnya, dan itu sudah menjadi kesepakatan antara Mbah Yanti dan Ibunya Soleh.
            Tiba-tiba di luar terdengar petir menggelegar, meskipun airnya belum turun, tapi angin sudah memanggil-manggil seolah pertanda akan turun hujan deras malam ini.
            “Kamu tidak ingin bermalam saja disini, Leh?,” tanya Mbah Yanti mencoba mengalihkan pembicaraan. “Di luar kelihatannya mau hujan deras,”.
            “Tidak, Mbah. Saya mau pulang saja. Ya sudah, Mbah. Saya permisi, kasihan adik-adik saya di rumah sendirian,” kata Soleh menyodorkan tangan kemudian mencium punggung tangan Mbah Yanti.
            “Assalamu’alaikum,” kata Soleh sambil melangkah menuju pintu.
            “Wa’alaikumsalam,” jawab Mbah Yanti mengantarnya sampai pintu depan. Dipandanginya punggung bocah itu sampai menghilang di belokan ujung gang. Gerimis mulai membasahi bajunya, tangannya diangkat siaga menutupi kepalanya untuk menghalau rintik hujan, langkah kakinya pun dipercepat. Kasihan, pikirnya. Sabar ya, Nak, suatu saat nanti kau pasti akan sukses, gumamnya dalam hati.
            Hujan semakin deras saat ia sampai di depan gubuknya. Ada yang aneh, pikirnya. ‘Sepatu siapa ini?’ tanyanya dalam hati. Matanya menangkap dua pasang sepatu wanita dan laki-laki, bukan sepatu biasa, tapi sepatu mahal, bermerk, sangat tidak mungkin kalau ini milik adik-adiknya. Apakah mungkin ini sepatu milik…?
            “Soleeehh,” teriakan dari dalam rumah mengagetkannya. Itu suara yang sangat dikenalnya. Bergegas ia melepas sandalnya, menerobos masuk. Pemandangan tak terduga ada di hadapannya. Itu ibunya dan seorang laki-laki. Ibunya memakai setelan yang sama seperti yang ia lihat tadi siang, laki-laki yang bersama ibunya juga laki-laki yang sama yang dilihatnya tadi siang. Ada apa ini?
             
BERSAMBUNG…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INGATKAN AKU !!!

YOUR SECRET ADMIRER (PART 1)