JANGGAL #CERPEN
Jakarta, 14 November 2015 pukul 23.00 WIB
Di salah satu gudang tak terpakai di sudut kampus, terlihat ada cahaya remang-remang menandakan masih ada kehidupan di dalamnya.
“Bang, maksudnya gimana?”
“Sudah lu ngomong saja, Qi, lu pasti tahu kan dimana itu disembunyikan.”
“Apanya, Bang? Gue enggak tahu apa-apa, itu urusannya bokap.”
“Jangan bohong deh, gue tahu lu anak kesayangannya, lu pasti tahu di mana semua itu disembunyikan.”
“Sumpah, Bang, gue enggak tahu.”
Tiba-tiba satu pukulan melesat mengenai pipi Aqi, membuat warna biru lebam di pipinya semakin tampak. Mata kirinya juga membengkak karena sudah dipukuli sejak sore tadi. Aqi adalah salah satu mahasiswa cerdas di kampusnya, tapi tiba-tiba pertemuannya dengan Bang Kuntet dan Bang Topan—salah satu kakak senior di kampusnya—merubah segalanya.
“Sudah, kita biarkan saja dia dulu, nanti kalau dia mati, kita yang repot.” Kata Bang Kuntet, mencegah tangan Bang Topan yang siap memukuli Aqi lagi.
Di luar tampak hujan gerimis rintik-rintik membasahi atap gudang. Tapi Aqi sama sekali tak bisa merasakan udara hujan itu, dia hanya merasakan pengapnya udara gudang dan kepulan asap rokok dari orang-orang yang tadi memukulinya. Tiba-tiba dia baru ingat kalau dia belum menghubungi Ibunya sejak kemarin. Maafkan aku Bu.
Tiba-tiba pandangannya jadi kabur, tubuhnya yang sudah tak kuat lagi berdiri tergeletak begitu saja di lantai. Dia sudah tak kuat, walaupun hanya untuk membuka mata, kesadarannya pun mulai hilang perlahan. Orang-orang disekelilingnya hanya memandang tak peduli dengan tubuh yang sudah tergolek tak berdaya itu.
Jakarta, 15 November 2015 pukul 03.00 WIB
Hujan yang mengguyur kota itu sejak sore mungkin sudah memuntahkan berjuta-juta kubik air. Kilat yang menyambar entah sudah berapa kali membuat jantung berdegup kencang. Langit malam yang menghitam semakin pekat dengan kedatangangan sekelompok pemuda. Sekitar 5 orang mengendap-endap menuju danau di tengah area kampus dengan membawa sebuah kantung besar. Napas mereka terengah-engah antara ketakutan, kekhawatiran, dan rasa bersalah. Jas hujan yang mereka pakai sudah tak bisa menghalangi air yang menyusup masuk ke dalam baju dan celana mereka. Kedinginan yang mereka rasakan bukan hanya pada tubuh saja, tapi juga hati mereka dibiarkan dingin dan membeku seperti isi dalam kantung itu. Sudah tidak ada lagi rasa peduli dan kasihan, semuanya sudah terlambat. Kini tinggal keberanian untuk menghilangkan semua jejak demi lembar-lembar pemuas perut mereka.
Kepala mereka menengok ke kanan dan ke kiri, seolah mencegah siapa saja melihat aksi mereka. Biasanya jika tak hujan, danau itu dipenuhi dengan pemancing dan pencari cacing. Tapi karena hujan lebat, danau itu menjadi sepi. Setelah merasa keadaan sudah aman, isi dari kantung tersebut dikeluarkan. Dengan menambahkan batu, mereka melepaskannya ke dalam danau. Karena suara hujan yang begitu lebat, suara riak danau menjadi tak terdengar.
Begitulah, semuanya terjadi begitu saja. Hanya katak dan jangkrik yang menjadi saksi. Tapi semuanya terdiam dibawah rerumputan, menunggu hujan reda dan mengadukan pada siapa saja apa yang sudah terjadi. Tapi karena bahasa katak dan jangkrik itu berbeda, jadilah hanya bunyi-bunyian tak jelas yang terdengar di tepi danau.
Yogyakarta, 15 November 2015 pukul 22.00 WIB
Hujan yang turun sejak sore masih bertahan membasahi bangku taman dan bunga-bunga yang berada di halaman depan. Juga kilat dengan warna keperakan tak henti-hentinya memberikan suara yang menggelegar membuat tangan ingin menutup telinga. Tapi tidak dengan seorang ibu yang tinggal di rumah ini, tatapannya kosong menatap televisi yang sedang menyiarkan berita tentang jenazah mahasiswa yang ditemukan mengambang di danau area kampus. Tapi dengan suara televisi yang sudah tenggelam digantikan oleh suara hujan dan kilat yang menyambar.
“Bu, kalau TV-nya tidak ditonton, mendingan dimatikan saja, bahaya ada petir di luar.”
“Aqi belum ada kabarnya, Pak?”
“Mungkin sedang sibuk belajar, jadi belum sempat balas SMS Ibu.”
Pak Zany, nama dari suami ibu itu, langsung mematikan televisi. Pak Zany paham jika istrinya sedang khawatir dengan keadaan anak bungsunya yang bernama Aqi. Sudah 2 tahun Aqi merantau di ibukota untuk menempuh gelar sarjana, tapi baru kali ini Aqi tak memberi kabar selama seminggu. Bu Lili, nama dari istri Pak Zany, hampir setiap hari menghubungi Aqi walaupun hanya untuk menanyakan sudah makan atau belum. Tapi firasat buruk tentang anaknya tak kunjung hilang dari pikirannya. Pak Zany langsung duduk di samping Bu Lili, meletakkan tangannya di pundak istrinya berusaha untuk menenangkan.
“Sudahlah Bu, Aqi pasti baik-baik saja, kan sudah besar pasti bisa jaga diri.”
“Aku punya firasat buruk, Pak.”
“Hush… jangan bilang yang bukan-bukan, berdoa semoga dia baik-baik saja dan dilindungi sama Gusti Allah di mana pun dia berada.”
“Amin.”
“Ya sudah, mari kita tidur, Bu.”
Malam semakin larut, tapi hujan tak kunjung lelah membasahi kota yang mulai sepi oleh hilir mudik kendaraan itu. Mata Bu Lili memang terpejam, tapi hati dan pikirannya tertuju pada anak bungsunya yang entah bagaimana kabarnya.
Jakarta, 16 November 2015 pukul 10.00 WIB
“Nin, kita 5 menit lagi on air.”
“Iya Den.”
Nina, seorang reporter baru yang akan menjalankan tugas pertamanya di lapangan. Dia masih sibuk melihat laporan berita yang akan dia bacakan secara langsung di acara berita yang sebentar lagi tayang.
Seorang mahasiswa ditemukan tewas mengambang di danau area kampus. Setelah dilakukan penyelidikan oleh Kepolisian di tempat kejadian perkara, ditemukan pula tas gendong yang ikut tenggelam bersamanya yang berisi banyak batu. Salah satu saksi yaitu teman korban menemukan surat wasiat yang diduga ditulis oleh korban di kamar kosnya. Berdasarkan surat wasiat yang ditemukan, motif mahasiswa itu bunuh diri dengan menceburkan diri di danau karena frustrasi dan stress tak bisa memenangkan olimpiade yang diikutinya. Tetapi terdengar desas-desus bahwa saat ini pihak Kepolisian bekerjasama dengan tim TNI AL telah menemukan bukti di dasar danau, yang nantinya bukti ini akan mengungkap bahwa kasus ini bukanlah kasus bunuh diri melainkan pembunuhan. Terkait tersangka pembunuhan, pihak Kepolisian masih bungkam mengenai siapa saja pelaku dibalik pembunuhan saudara yang berinisial M.A.N. Sampai saat ini kami masih menunggu konferensi pers dari pihak Kepolisian mengenai kasus yang diduga pembunuhan ini. Sekian laporan dari saya, Nina Renata melaporkan.
“Nin, lu yakin sama laporan lu?”
“Gue yakin Den, lu kemarin dengar sendiri kan pernyataan Kepolisian kalau TNI sudah menemukan bukti, terus buat apa kita takut melaporkan kalau ini memang pembunuhan.”
“Iya Nin, tapi TV lain belum ada yang berani menayangkan dugaan pembunuhan, semuanya masih menayangkan kalau ini adalah kasus bunuh diri biasa.”
“Sudah yakin saja, kebenaran itu enggak boleh ditutup-tutupi.”
“Tapi lu masih inget kan, setelah isu tentang TNI menyebar, Kepolisian seolah tutup mulut. Jadi enggak terbuka lagi sama wartawan. Gue merasa ada yang aneh sama kasus ini.”
“Sudah enggak apa-apa, fakta di tangan mau enggak mau harus kita sampaikan, bukankah kejahatan itu harus diusut tuntas dan kebenaran harus dibela siapa pun pelakunya?.”
“Iya Nin gue tahu, lu masih inget kan kasus wartawan yang hilang karena mengusut kasus tentang pembunuhan Jenderal 5 tahun yang lalu? Gue enggak mau itu terjadi sama lu.”
“Tenang Den, gue bakal hati-hati.”
Nina hanya menganggukkan kepala setelah dinasihati oleh Deni. Deni adalah temannya yang sudah lebih dulu terjun di dunia jurnalistik. Deni paham betul jika ada kasus tertentu yang beresiko untuk diliput, apalagi yang berhubungan dengan aparatur negara. Menurut instingnya, kasus pembunuhan ini pasti melibatkan aparatur negara. Entah bagaimana dan mengapa kasus pembunuhan ini bisa terjadi, tapi sikap bungkam dan tertutup dari pihak Kepolisian menunjukkan bahwa ini bukan kasus biasa. Keanehan bertambah karena ayah korban alias Pak Zany bukanlah pejabat di kalangan pemerintahan, hanyalah pegawai rendahan di kelurahan. Entah teka-teki apa yang sedang dimainkan terhadap keluarga yang tak bersalah itu. Entah permainan apa yang terjadi hingga satu nyawa harus melayang demi ketidakadilan. Entah nyawa mana lagi yang harus dikorbankan demi kepentingan sekelompok orang. Mungkinkah satu nyawa lebih mudah dihilangkan daripada menghilangkan nafsu dan keinginan duniawi yang entah sampai kapan bisa terpenuhi? Entahlah.
“Nin, itu Pak Zany, ayo cepat wawancara dia.” kata Deni menunjuk seorang lelaki yang berjalan menuju kantor Kepolisian dimana mereka sedang meliput.
“Oke, ayo!.”
Nina segera berlari menuju Pak Zany yang mulai memasuki kantor Kepolisian. Dengan sigap Deni memanggul kamera dan menangkap gambar pak Zany.
“Pak, kami minta waktunya sebentar untuk wawancara mengenai kematian anak anda, apakah benar anak anda bukan bunuh diri?”
“Maaf, saya tidak bisa berkomentar banyak, tapi saya yakin anak saya tidak punya jiwa yang lemah untuk bunuh diri, permisi saya harus pergi.”
Seketika Pak Zany langsung masuk ke dalam kantor Polisi. Nina dan Deni kembali ke tempat semula dengan pertanyaan yang masih menggantung.
Jakarta, 17 November 2015 Pukul 17.00 WIB
Hujan sore itu meninggalkan kesedihan yang mendalam, bukan hanya di hati orang-orang yang berkerumun tapi juga mereka yang pernah mengenalnya. Deni sedikit berlari menuju tepian danau yang sudah dipenuhi kerumunan orang. Kepala mereka melongok ingin tahu apa yang terjadi di tepian danau. Tim SAR yang sudah berada di atas kapal di tengah danau sedang mengambil tubuh seorang gadis yang sudah mengambang sejak semalam. Baru tadi pagi, Bang Wawan, temannya sesama wartawan mengabarkan ada seorang gadis yang tenggelam di danau yang sama dengan kasus pembunuhan mahasiswa. Setelah mencapai tepian danau, Deni tak menyangka ternyata gadis tersebut adalah temannya sendiri.
“NINA!”
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah membaca blog ini. Berikan komentar/saran/kritik terbaikmu untuk blog ini agar blog ini semakin baik lagi. Terima kasih. Ku doakan masuk surga bagia kalian yang mau nulis di kolom ini. Amiin.