POHON SANG PRESIDEN #CERPEN



           Pagi itu saat matahari belum menampakkan dirinya, puluhan orang bertopi kerucut khas petani berkumpul memenuhi jalan raya. Jalan yang biasanya menghubungkan provinsi Jawa Tengah dengan provinsi Yogyakarta. Lebih tepatnya jalan utama menuju kota kelahiranku, Banyumas. Dan saat ini aku baru setengah perjalanan menuju kotaku. Kota Kebumen, disinilah aku terjebak sekarang. Jalanan ini biasanya padat merayap oleh kendaraan saat Hari Raya Idul Fitri maupun saat mendekati Natal dan Tahun Baru. Karena hampir sebagian orang yang merantau di Yogyakarta pulang ke kampung halamannya masing – masing. Tapi, saat ini bukan Hari Raya Idul Fitri, bukan juga menjelang Natal dan Tahun Baru. Namun, hari Raya Idul Adha yang tinggal menghitung hari. Teman – teman kuliahku yang berasal dari kota – kota di Jawa Tengah pun tak semuanya pulang, jadi seharusnya jalanan tak sepadat ini. Entah apa yang menyebabkan puluhan orang itu berkumpul di sepanjang jalan. Apakah itu termasuk perayaan \menyambut hari Raya Idul Adha? Entahlah. Aku juga masih bertanya – tanya dalam hati.
            Matahari sudah tidak malu – malu lagi menampakkan dirinya, cahaya hangat sang mentari mulai menyapaku. Rasa dingin karena perjalanan perlahan mulai menghilang, digantikan hangatnya cahaya mentari yang menembus jaketku hingga permukaan kulit. Tapi, orang – orang yang tadi berkumpul di jalan bukannya berkurang justru lama – kelamaan semakin banyak. Ratusan hingga ribuan orang – orang itu semakin memenuhi jalanan. Alhasil pengendara  motor yang melintas, termasuk aku, harus duduk diam di jok motor sambil menunggu mereka menyingkir dari trotoar jalan. Orang – orang yang mengendarai mobil sama tak sabarnya denganku, mereka bahkan keluar dari mobil. Dan berteriak – teriak tak jelas pada ribuan orang yang memenuhi jalanan itu.
            “Woy minggir!!!” kata seorang laki – laki yang berteriak dari dalam mobil sambil mendongakkan kepalanya lewat kaca jendela yang terbuka. Lalu disambut teriakan – teriakan pengendara lainnya, bahkan ada yang menambahkan sedikit umpatan ala kebun binatang dan berbagai bunyi – bunyian klakson.
            Suasana yang begitu riuh justru membuat orang – orang bertopi kerucut itu semakin kuat pendiriannya untuk tetap berdiri di trotoar jalan. Barisan mereka  pun sudah tak terhitung lagi berapa meter jauhnya.
Mungkin sudah hampir satu jam, pantatku menduduki jok motor, karena jalanan yang dipadati lautan manusia membuat motorku tak bisa bergerak maju ataupun mundur. Padahal jarak rumahku dari jalanan itu lumayan jauh, harus menempuh 2 jam perjalanan lagi. Dan sekarang aku sudah  menunggu 1 jam lebih, mungkin aku akan sampai di rumah hingga tengah hari, pikirku.
            Pukul 09.00 WIB saat kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Tepat saat itu pula kulihat puluhan hingga ratusan orang – orang berseragam ala tentara datang dengan mobil “DALMAS” (DALMAS = Pengendali Masyarakat). Mungkin hampir 5 mobil diterjunkan untuk menertibkan ribuan petani yang ikut berdemo.
            “Ada apa ini? AYO BUBAR SEMUA!” teriak salah seorang tentara yang  membawa senjata laras panjang.
            “Kami tidak akan bubar!” teriak salah seorang petani yang berdiri di barisan paling depan.
            “Kami akan tetap disini hingga tetes darah kami yang terakhir!” teriak petani lainnya yang berada di barisan belakangnya. Barisan yang paling belakang pun mulai menyahut dengan suara yang tak kalah keras, sehingga menyebakan suara gaduh yang tak jelas terdengar.
            “BUBAAAR SEMUAAAA…!” teriak salah seorang tentara yang memakai banyak bintang di topinya. Mungkin ia salah satu jenderal yang ditugaskan untuk menertibkan kerusuhan itu.
            “Duuuuaaaaaarrrrrr…..” tiba – tiba ada suara tembakan dari tentara yang berada di barisan paling depan dan sudah mengacungkan pistolnya ke atas.
            Tatkala semua petani yang memakai topi kerucut itu langsung duduk di tanah sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya, seperti melindungi dirinya dari tembakan tadi. Kegaduhan dan keributan orang – orang berteriak tadi dalam sekejap langsung diam dan tak berkutik. Degup jantungku pun seolah ikut berhenti mendengar tembakan bebas yang dilakukan oleh tentara tadi.
            “Pak, tolong dengarkan kami, kami  hanya ingin menginginkan tanah kami kembali” kata petani yang tadi ikut berteriak tapi kini berkata dengan suara yang memelas.
            “Iya pak, kami tak tahu harus bagaimana, jika sawah kami satu – satunya harus digusur” kata petani yang disebelahnya dengan suara yang lebih memelas lagi.
            “Maaf bapak – bapak dan ibu - ibu, kami tak berwenang untuk menunda penggusuran ini, karena kami hanya melaksanakan perintah” kata pria bertubuh tegap dengan topi yang lebih banyak bintangnya dari yang berteriak tadi.
            “Baiklah, kalau begitu kami tak akan bergerak dari tempat kami berdiri sekarang, sebelum bapak – bapak tentara pergi dari tanah kami ini” teriak salah seorang petani dan disambut teriakan – teriakan penyemangat dari ribuan teman-temannya.
            Pukul 10.00 WIB suasana semakin tegang dengan massa yang semakin membludak dan antrian panjang kendaraan yang semakin mengular. Aku menduga kemacetan yang diakibatkan oleh demo para petani ini mencapai puluhan kilometer. Karena jika aku tak salah dengar, begitulah yang dikatakan wartawan berita yang menyiarkan langsung kejadian pagi ini. Kukira bukan hanya wartawan berita lokal yang datang, ternyata ada juga wartawan internasional yang turut meliput demo buruh petani itu.
            Kumpulan buruh petani yang juga tak berkurang dan antrian panjang kendaraan yang entah bertambah berapa puluh kilometer lagi. Lalu sekelompok wartawan yang siap dengan kameranya berjaga di setiap sudut – sudut jalan menantikan momen – momen mengejutkan lainnya yang mungkin terjadi saat itu. Serta sudah ratusan mungkin ribuan pasukan SATPOL PP, Kepolisian, dan tentara yang ikut diterjunkan untuk membubarkan massa yang juga tak kunjung berkurang.
            Dan kini aku pun mulai bosan dengan jok motorku yang entah berapa jam telah kududuki. Aku memutuskan untuk memarkirkan motorku di tepi jalan raya saja, karena aku khawatir kekisruhan yang terjadi semakin parah. Lagi pula aku tak mau terjebak di tengah – tengah jalan raya saat terjadi kerusuhan yang tak terduga. Dengan segala daya upaya, motorku terparkir juga di tepi jalan raya. Walaupun sudah agak jauh dari pusat aksi demo itu, tetap saja aku bisa melihat apa yang dilakukan oleh barisan petani dan barisan tentara itu. Masing – masing dari mereka saling beradu argumen tentang tanah pertanian dan sawah milik para petani yang akan digusur.
            “Sejak kami lahir dan sampai kapan pun, tanah ini tetaplah milik kami” sayup – sayup terdengar dari kejauhan perbincangan antara  petani dan tentara.
            “Kami tidak peduli, yang jelas surat perintah sudah di tangan saya, dan tanah ini sudah harus diratakan sekarang juga” Kata salah seorang tentara.
            “Kalau begitu langkahi dulu mayat kami jika mau meratakan tanah leluhur kami” teriak seorang ibu yang dari kejauhan terlihat sudah mengeluarkan air mata.
            “Pak, ini adalah sawah kami satu – satunya, jika semua ini diratakan bagaimana kami memberi makan anak – anak kami, bapak mau ngasih makan anak kami?” tanya seorang petani lagi. Lalu disusul pertanyaan – pertanyaan dari ribuan petani lainnya, yang membuat suara dari tentara itu tak jelas terdengar lagi.
Dari perbincangan orang – orang di sekitarku yang tak sengaja kudengar, aku baru tahu bahwa para petani itu memang jauh – jauh hari sudah bersiap mengahadang SATPOL PP, polisi, hingga tentara agar tak meratakan sawah dan kebun mereka. Karena dari sawah dan kebunlah mereka bisa hidup, mereka bisa menyekolahkan anak mereka. Jika semua itu diratakan, dan dibangun hotel bintang lima, justru penduduk di sekitarnya akan menjadi pengangguran. Gelandangan dan pengemis juga meningkat. Kenapa pemerintah sekarang terburu – buru sekali dalam memberikan izin dibanngunnya hotel bintang lima, tapi pembangunan sekolah di desa terpencil justru tak juga dilaksanakan. Entahlah aku bukan siapa – siapa yang berhak marah – marah pada keputusan pejabat di negeri ini. Aku hanya rakyat biasa, itu saja.
Tak jauh dari tempatku memarkir motor, ternyata ada juga beberapa pengendara lain yang ikut menepi bersamaku. Mungkin mereka berpikiran sama denganku, cari aman sajalah.
            “Nak, mau kemana?” tanya seorang bapak yang tiba – tiba menyapaku setelah aku selesai memarkirkan motor.
            “Banyumas, pak” kataku pada bapak itu. “Bapak mau kemana?” kataku balik bertanya.
            “Saya mau jenguk anak saya yang dirawat di RSU Banyumas” kata bapak itu dengan raut muka sedih. “Tapi gara – gara demo ini, saya jadi terlambat melihat anak saya untuk terakhir kalinya” kata bapak itu lagi dengan mata hampir berkaca – kaca.
            “maksudnya yang terakhir kali, bagaimana ya pak?” tanyaku bingung.
            “Anak saya baru kemarin didiagnosa dokter kena usus buntu, dan harus segera dioperasi, seharusnya tadi pagi jam 8 saya harus sudah disana untuk melihat dia setidaknya sebelum dioperasi. Tapi jam 10 tadi, saya mendapat kabar dari adik saya yang ikut menemaninya operasi kalau dia sudah menghembuskan napasnya yang terakhir” kata bapak itu dengan muka hampir menangis. Pada kondisi seperti itu, jujur aku bingung harus bagaimana. Suasana pendemo yang semakin memanas, kemacetan yang tak kunjung tuntas, pikiranku yang sudah mulai penat, ditambah curahan hati seorang bapak yang baru saja kehilangan anaknya. Jujur pak, saya juga lelah, saya juga ingin cepat sampai di rumah bertemu bapak dan ibu saya, tapi mau bagaimana lagi pak. Gara – gara demo semua urusan jadi harus tertunda, sabar ya pak, dalam hati aku berkata pada bapak itu.
            “Inalillahi wa inailaihi roji’un, saya ikut bersedih pak, yang sabar ya” dan akhirnya yang keluar dari mulutku hanya itu. Dengan muka simpatik dan tatapan peduli. Aku menepuk pundak bapak itu seolah memberikan semangat agar bapak itu tak terus bersedih menghadapi kepergian anaknya.
            “ngiung….ngiuuung…ngiuuuung…”
            Tiba – tiba dari ujung jalan, terdengar raungan sirine mobil polisi. Dibelakang mobil polisi itu, ada iring – iringan mobil sedan hitam yang terlihat mewah dan mahal. Mobil polisi lengkap dengan sirine itu terlihat tergesa – gesa ingin segera melewati kerumunan kendaraan yang sudah dari tadi diam tak bergerak. Dengan bantuan tentara, akhirnya iring – iringan sedan hitam itu berada tepat di tengah – tengah batas antara kemacetan kendaraan dan pendemo. Yang aku duga, di dalam mobil sedan itu pasti ada orang penting yang mempunyai sangkut paut dengan kasus tuntutan pendemo. Dan ternyata benar. Keluarlah orang penting yang ditunggu – tunggu, semua kamera wartawan kini sudah tertuju pada seseorang yang baru turun dari sedan. Orang nomor satu di Indonesia saat ini telah berdiri diantara pendemo.
            “Bapak – bapak, ibu – ibu, saya datang kesini ingin menjelaskan kepada bapak dan ibu sekalian bahwa penggusuran tanah disini tidak akan dilaksanakan hari ini” kata bapak itu dengan aksen ‘jowo’nya.
            Semua pendemo berteriak – teriak mengucap syukur dan berterima kasih pada Bapak Presiden. Riuh rendah tepuk tangan, siulan, hingga teriakan ‘merdeka’ mewarnai hirup pikuk siang itu. Ada juga yang melakukan sujud syukur di trotoar, karena luapan bahagia yang sangat dalam.
            Kulihat tak jauh dari tempatku berdiri, ada seorang anak kecil. Seumuran dengan adikku yang baru masuk SD, umurnya kurang lebih 6 tahun. Dia berdiri tegap dengan membawa bibit tanaman, entah tanaman apa. Yang jelas dari tatapan matanya, ada raut muka sedih dan ada kaca – kaca di matanya yang siap pecah kapan saja. Ingin kusapa dia dan kutanya buat apa bibit itu, tapi anak itu sudah berlari menuju kerumunan sang Presiden berdiri. Ingin kucegah dia agar tidak menuju kerumunan itu, karena dengan tubuh sekecil itu bisa saja dia terdorong oleh tubuh orang dewasa. Tapi semoga saja tidak, harapku. Aku yang melihat dari kejauhan, berharap bisa melihat anak kecil itu, dan melihatnya selamat sampai seberang jalan. Karena aku kira, dia ingin menemui bapak atau ibunya yang ikut berdemo bersama ribuan petani lainnya. Tapi ternyata dugaanku salah.
            Anak kecil itu berusaha menerobos lautan manusia dan seperti ingin menemui Pak Presiden yang berada di tengah kerumunan. Tapi pasukan pengawal presiden yang berada disekelilingnya terlalu kuat bagi bocah sekecil dia. Kulihat dari kejauhan, anak kecil itu dipegang bahunya oleh pria bertubuh tegap, yang kutebak dia adalah pengawal presiden. Lalu anak itu dibawa keluar kerumunan. Semangatnya untuk bertemu Pak Presiden sungguh patut diacungi jempol. Entah berapa kali anak itu masuk kerumunan, lalu diseret keluar oleh pengawal, lalu masuk lagi, diseret lagi, begitu seterusnya. Cukup lama kejadian itu berlangsung, hingga anak itu tak kelihatan dimana sekarang, apakah dia mencoba masuk kerumunan lewat arah yang berbeda? Entahlah. Tapi aku tetap penasaran, dimanakah ia sekarang?
            “Ada apa nak?” tanya Pak Presiden tiba - tiba kepada seseorang, tapi aku tak bisa melihat seseorang itu.
            “Ini untuk bapak” kata suara cempreng khas anak kecil. Ku duga dialah anak kecil yang dari tadi aku perhatikan.
            “Wah terima kasih, bibit apa ini nak?” tanya Pak Presiden kepada anak kecil itu.
            “Ini bibit pohon Mangga untuk Pak Presiden dari Bapak saya” jawab anak kecil itu.
            “Lho dimana bapak kamu sekarang? Saya ingin mengucapkan terima kasih padanya” jawab Pak Presiden lagi.
            “Bapak saya sudah meninggal dua hari yang lalu, tapi bapak saya pesen kalau saya pengen jadi presiden haruslah seperti pohon, yang memberikan manfaat untuk lainnya dan bukan mengambil manfaat untuk dirinya sendiri” Jawab anak kecil itu dengan terbata – bata. Mungkin bagi dia, kata – kata bapaknya terlalu susah untuk diucapkan.
            “Inalillahi wa inailaihi roji’un, saya ikut sedih nak” kata Pak Presiden.
            “Baiklah saya akan menerima dan merawat bibit darimu. Tapi berjanjilah  satu hal pada saya, kalau suatu saat nanti kamu akan menggantikan saya sebagai presiden, mau?” Kata Pak Presiden lagi dengan suara khas ke-bapak-an.
            “Mau, mau, saya sangat mau pak” jawab anak kecil itu kegirangan.
            Aku tak tahu apa yang terjadi setelah dialog itu berakhir, karena kerumunan Pak Presiden sudah penuh disesaki orang. Jadi aku tak bisa melihat apa yang selanjutnya terjadi, apalagi setelah pengeras suara milik presiden tak lagi berkumandang dialog apa pun. Yang tersisa hanya rasa haru dan bangga, bahwa masih ada anak kecil bercita – cita mulia dan memiliki nyali besar sehingga begitu berani menemui orang nomor satu di Indonesia. Aku bisa membayangkan bagaimana sesaknya anak kecil tadi menerobos orang yang ukurannya lebih besar darinya. Lalu akhirnya berada di barisan paling depan dan mendapatkan kesempatan berbicara langsung dengan sang Presiden.
             Setelah dialog itu berakhir, terlihat rombongan Pak Presiden mulai merangkak pergi. Begitu pula kerumunan ribuan petani yang perlahan tapi pasti mulai menyingkir dari trotoar jalan. Tapi para wartawan tak mau beranjak pergi begitu saja, mereka masih sibuk mengelilingi anak kecil bernyali besar yang tadi bercakap – cakap dengan Pak Presiden. Entah pertanyaan apa yang dilontarkan wartawan untuk si anak kecil. Yang jelas dari si anak kecil aku belajar untuk selalu berani menghadapi segala tantangan, seperti pohon yang tinggi pasti akan ada saja angin yang ingin merobohkannya. Semoga pohon mangga yang diberikan si anak kecil akan mengingatkan Sang Presiden untuk selalu memberikan manfaat pada seluruh rakyat Indonesia dan tak berpikir manfaat apa yang bisa diambil dari rakyat, apalagi pada rakyat miskin dan tak punya apa – apa. Semoga pohon itu juga bisa memberikan sedikit harapan pada si anak kecil untuk terus mengingat cita – citanya dan mewujudkannya suatu hari nanti. Dan aku pun pulang dengan banyak pelajaran hari ini.


SEKIAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INGATKAN AKU !!!

YOUR SECRET ADMIRER (PART 1)